Namanya Bairuha’
Ya, namanya Bairuha’.
Begitu indah dan memikat hati. Sejuk, rimbun, luas, menghadap ke masjid Nabawi di Madinah. Dan yang menjadikannya lebih istimewa lagi adalah karena Rasulullah saw yang mulia pernah memasukinya kemudian meminum airnya yang sejuk.
Bairuha’ adalah nama sebuah kebun kurma yang sangat dicintai Abu Thalhah, pemiliknya.
Tapi tiba-tiba kebun yang begitu prestisius, berlokasi strategis dan bernilai sejarah tinggi itu menjadi tak bernilai sama sekali di mata Abu Thalhah ketika turun ayat berikut:
” Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebaikan, sebelum kalian menafkahkan dari sesuatu yang kalian cintai “
(Q.S. Ali Imran: 92)
Demi mendengar ayat di atas, Abu Thalhah segera bergegas menuju Rasulullah kemudian dengan serta merta menyerahkan Bairuha’ beserta segala isinya kepada Rasulullah untuk dipergunakan sebagaimana apa yang diperintahkan Allah kepadanya.
Rasulullah yang bijak memuji tindakan Abu Thalhah ini tetapi menyarankan agar Bairuha’ dibagi saja kepada kerabat Abu Thalhah yang lebih membutuhkan.
Maka dibagikanlah kebun itu kepada kerabat dan sepupu-sepupu Abu Thalhah yang berjumlah sekitar 70 orang. Masing-masing mendapatkan 200 pohon kurma!
Kisah ini diriwayatkan oleh sahabat Anas ra dan dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam Bab ke-37 Riyadhus Shalihin yang ditulisnya.
***
Mungkin kita telah sering berinfaq selama ini. Tapi sudahkah ia infaq yang berkualitas? Atau sekedar infaq “seikhlasnya” yang tidak begitu ikhlas?!
Maka mari berlatih sejak saat ini untuk memberikan infaq terbaik dari yang kita cintai.
Jangan lupa, untuk memulai infaq itu kepada kerabat terdekat yang membutuhkan.
Add comment October 30, 2009
Istri saya itu
Hari ini ia pasti sedang sibuk.
Sebagaimana hari ini, hari-harinya yang kemarin juga selalu penuh dengan kesibukan.
Kebanyakannya karena saya. Karena baju saya yang lecek, celana saya yang kotor, bekal makanan saya yang belum matang, lantai yang saya tumpahi dengan air teh, Qur’an saya yang ketinggalan, susahnya saya dibangunkan untuk mandi, dsb.
Hampir segala kesibukannya itu diakibatkan oleh hadirnya saya dalam hidupnya.
Sejak kapan? Sejak kami menikah.
Iya, tepat sejak dua bulan lalu. Sejak untuk pertama kalinya saya mengucap kalimat “qabul” sebagai penghalal hubungan kami berdua. Yang mengukuhkan diri saya sebagai suami untuknya.
***
Menjadi suami seharusnya menjadikan saya pelindung yang kuat baginya. Penghapus air matanya. Pemenuh kebutuhannya. Penghibur laranya…
Tapi alangkah sabarnya ia menghadapi diri saya yang masih jauh dari itu semua. Begitu pemaafnya ia atas harapan dan cita yang belum sanggup saya wujudkan dengan sepenuh tenaga. Begitu pengertiannya ia akan kelemahan-kelemahan suaminya yang maunya menang sendiri itu.
Maka ia tak pernah lelah tersenyum, tak pernah berhenti untuk sibuk, menekuni pengabdiannya pada Allah dengan melayani sang suami sepenuh jiwa dan raga.
Tak peduli jika suaminya akan membuatnya menangis lagi. Tak peduli begitu lemahnya ingatan sang suami untuk mencatat kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan.
Dia tetap sibuk.
Seperti juga hari ini dan hari-hari sebelum ini.
***
Istriku,
engkaulah tulang rusuk yang ditakdirkan menguatkan dadaku
…
4 comments October 8, 2009
Fitrah Bosan
Masih dalam edisi mengenang SKI…
Fitrah bosan
Bosan adalah fitrah. Ini sih kesimpulan saya sendiri. Masih menurut saya , Allah itu tahu kalau kita gampang bosan. Makanya Allah memerintahkan kita untuk menyembah-Nya dengan cara yang bermacam-macam. Supaya kita tidak mudah bosan.
Ada yang sifatnya amalan batin seperti zikir, tawakal, ikhlas. Ada yang sifatnya amalan badan seperti haji, sholat, jihad. Pun ada amalan dengan harta semacam infaq, zakat (kalo shodaqoh bukan termasuk amalan harta, soalnya ia tak selalu dalam wujud harta, contohnya senyum, shodaqoh juga kan?!).
Rasulullah dalam mengajarkan bacaan sholat misalnya, juga tidak dengan satu macam redaksi saja. Kalo kita baca buku ” Sifat Sholat Nabi “nya Syaikh Albani kita pasti akan tahu kalau versi bacaan sujud itu saja bisa mencapai lebih dari tiga macam.
Demikian juga untuk bacaan yang lain. Bahkan taawudz saja ada dua macem, ada yang seperti biasa antum baca dan ada yang seperti yang saya biasa baca, yang ditambah “…sami’il aliimi…”.Supaya kita tidak gampang bosan.
Qur’an yang 30 juz itu juga didesign membuat kita tidak bosan membacanya ketika sholat. Kalau kita jadi bosan itu mungkin gara-gara kitanya yang nggak banyak ngapal qur’an. Lha kalo yang dibaca cuma yang itu-itu aja (surat andalan: Qulhu, An Naas, Al Falaq) ya bakal bosen.
Yang ingin saya tekankan di sini adalah betapa sesuatu yang rutin dilakukan dengan cara yang sama memang bisa berpotensi menimbulkan kebosanan pada diri manusia, bahkan untuk kegiatan yang ia tahu benar bermanfaat untuknya.
Maka variasi itu penting. Refresh itu penting. Jangan disepelekan. Rasulullah pernah bersabda, ” Jadiddu imanakum!”, perbaharuilah imanmu!
Tuh, bahkan iman pun harus direfresh!
Ini perlu saya sampaikan karena barangkali (barangkali lho…) para aktivis muda SKI yang sekarang lagi berkibar-kibar semangatnya ini, yang tiap harinya akan dipenuhi agenda dakwah dan syuro’ ini, lama kelamaan akan mengalami kebosanan pula yang berujung kefuturan (naudzubillahi min dzalik…) atau hengkangnya ia dari medan dakwah.
Kisah semacam ini sudah banyak terjadi.
Makanya refresh terus pola dakwah antum. Konsisten terhadap misi itu harus! Tapi tidak selalu harus dengan gaya dan cara yang sama.
Kalau syuro’ di sekre SKI sudah tidak menarik lagi, mungkin bisa dipertimbangkan untuk syuro di kantin, di lembah teknik, di kost akhwat, atau tempat manapun yang dirasa aman, syar’i dan tdk menimbulkan fitnah (syuro’ di kuburan jelas bukan alternatif yang baik berdasar ini, he..he..).
Atau juga tidak harus tempatnya yang diubah tapi suasananya, urutan acaranya, dan lain-lain. Kalau harus ganti ketua SKI tiap minggu demi alasan refresh, ini jelas mengada-ada. Kalau yang tausiyah, atau yang tilawah digilir sepertinya layak dicoba.
Pun demikian juga dengan metode dakwah kita pada obyek dakwah. Bisa jadi mereka sudah mulai bosan dengan model kajian yang begitu-begitu saja. Mungkin mereka sudah jenuh melihat pamflet-pamflet kita yang desainnya nggak kunjung berkembang. Atau bahkan bisa jadi mereka bosan karena yang ngajakin mereka kita terus dan tidak ada perhatian pengurus yang lain kepada mereka. Saatnya perbaharui itu semua. Sekarang? Iya sekarang, sebelum semua terlanjur bosan!
Add comment October 8, 2009
Sudahkah kita pantas?
Boleh lah kalau beberapa tulisan terakhir ini disebut sebagai ” Edisi Mengenang SKI”. Rasanya aneh memang merasa tertausiyahi oleh diri sendiri, tapi begitulah adanya.
Membaca kembali tulisan-tulisan yang saya susun sendiri di masa peluh keringat aktivitas dakwah kampus itu masih deras membanjir, menjadi tamparan tersendiri bagi diri. Seolah saya yang sekarang ini begitu jauh dari sosok itu dalam menggeluti dakwah. Begitu manja dan terlena.
Semoga antum tak keberatan menyimaknya bersama saya, sebuah tausiyah dari saya, untuk diri saya sendiri…
Sudahkah kita pantas ?
Pada suatu malam Rasulullah bangkit dari istirahat malamnya kemudian seperti biasa mengambil air wudhu untuk menghadap Tuhannya dalam sepenuh kepasrahan.
Betapa terkejutnya Aisyah yang terbangun kala itu ketika mendapati kekasihnya masih saja khusyuk bertaqarrub ilallah meski kakinya bengkak karena lama berdiri dalam sholat malam. Maka begitu Rasulullah selesai bermunajat, Aisyahpun segera menghampiri pujaan hatinya itu dan dengan nada cemas bercampur heran ia bertanya,” Ya Rasulullah, bukankah engkau ini seorang yang ma’shum, seluruh dosa yang lalu dan yang akan datang telah Allah ampuni dan sungguh engkau telah dijamin masuk surga. Lalu mengapa engkau harus beribadah sekeras ini?”
Sambil tersenyum Rasulullah menjawab dengan tenang,” Tidak bolehkah aku bersyukur pada Tuhanku?”
Jauh sebelum itu, ketika Khadijah masih di sisi Rasulullah, ketika turun wahyu yang memerintahkan Rasulullah menyeru manusia pada jalan Allah, rasulullah berkata, “sungguh telah habis waktu untuk beristirahat…” dan sungguh sejak saat itu rasulullah tidak pernah berhenti dan beristirahat dari memikirkan umat dan menyerukan dakwah ilallah.
Saudaraku, demikianlah teladan yang telah diberikan Rasulullah pada kita tentang bagaimana seharusnya kita beramal untuk meraih ridho Allah SWT. Begitupun para sahabat.
Masih ingat bukan bagaimana Abu Bakar Ash Shidiq menginfaqkan seluruh hartanya untuk membiayai sebuah peperangan di jalan Allah dan hanya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya bagi keluarganya?
Atau sudahkah kita lupa dengan kisah Mush’ab bin Umair, pemuda terganteng Mekah waktu itu, yang pakaiannya paling bagus, yang digandrungi gadis-gadis mekah namun rela mengorbankan segala yang dimilikinya bahkan meninggalkan ibu yang sangat dicintainya demi dakwah ilallah. Hingga ketika syahid menjemputnya bahkan kain kafan yang dimilikinya tidak mampu menutup seluruh tubuhnya.
Mungkin kita memang sudah lupa, atau setidaknya pura-pura lupa dengan semua fakta sejarah yang menunjukkan bahwa untuk menggapai surga tidak bisa melalui jalan yang bertabur bunga dan senang. Yang nyaman, sejuk dan datar. Tidak! Bahkan sejarah menunjukkan bahwa kemuliaan syahid hanya didapat oleh mereka yang berjuang keras, menerjang badai, mendaki gunung kesulitan, menetapkan langkah pada jalan yang berpijar panas dan membakar.
Maka heranlah saya atas ungkapan ini : “…kita tidak usah terlalu ngoyo* dalam berdakwah, akhi!” Saya justru bertanya, “ Memangnya sudah sengoyo apakah kita dalam jalan ini? Sudah seberapa yang kita beri untuk dakwah ini? Sudah pantaskah kita mengharap surga atas semua ini? “
Sungguh saya tidak berani mendengar jawabnya karena saya akan terlalu malu karenanya…
*Ngoyo: bahasa jawa, artinya ‘berlebihan berusaha’
Add comment October 8, 2009
Maafkan saya seribu kali…
Sebuah surat, yang pernah saya tuliskan bagi saudara-saudara seperjuangan di SKI FT UNS saat masih menjabat sebagai Ketua Umumnya. Kini saya persembahkan untuk antum semua, yang pernah terluka akibat saya…
Maafkan saya seribu kali…
Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu akhirnya hal yang saya idam-idamkan dalam SKI ini terwujud juga. Suasana terbuka dimana pengurus yang satu dan lainnya dengan penuh itikad baik saling mengkritik demi kemajuan bersama dapat terwujud dalam acara “Berhenti sejenak” kemarin Selasa.
Darinyapun saya belajar banyak.
Ternyata tidak setiap yang saya kira saya ketahui, benar-benar saya ketahui. Ternyata masih banyak rahasia yang tersembunyi. Gumpalan perasaan yang terus menyesak jiwa saudara-saudara yang saya cintai. Dan yang paling saya sesali, bahwa sebagian besarnya diakibatkan oleh saya. Duh!
Saya, seorang yang seharusnya bisa dijadikan tumpuan harapan, bank penyelesaian masalah, terkadang justru menimbulkan permasalahan-permasalahan baru yang menambah beban perjuangan.
Duh…duh..!
Seandainya ribuan ‘maaf’ dapat menyelesaikan masalah, tentu saya tak keberatan mengucapkannya untuk antum semua, tapi sungguh saya tahu itu takkan cukup. Saya perlu berubah dan bukan tidak mungkin antumpun harus berubah.
Perubahan itu membutuhkan energi yang besar, saudaraku. Sangat besar. Energi untuk bisa melihat diri dengan objektif. Mengenali kesalahan yang melekat padanya dan mengelupasnya, tak ayal pasti membawa perih. Tapi ini harus dilakukan, diupayakan. Tidak bisa tidak!
Maka kita harus saling menguatkan. Saling topang. Selangkah demi selangkah cita itu akan kita genggam.
Yudhy
… dalam ketermanguan di bulan suci …
Add comment October 8, 2009
Pena telah terangkat dan lembaran tulisan telah kering
” Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) “
(Q.S. Al An’am: 59)
Dulu waktu masih getol-getolnya keranjingan menamatkan terjemah Al Qur’an, ayat ini menjadi salah satu ayat yang sangat memikat hati dan pikiran saya.
Begitu puitis untuk menggambarkan kekuasaan Allah yang Maha Dahsyat.
Jangankan apa yang sedang kita kerjakan atau katakan, sepotong daun yang tipis, ringan dan nggak penting pun jatuh dalam pengamatan Allah swt.
Bayangkan! Setiap daun, dari jutaan bahkan milyaran daun yang berguguran di bumi ini diawasi oleh-Nya!
Sedemikian dahsyat dan melekatnya pengawasan Allah terhadap makhluk-Nya. Tapi kita masih saja berpikir keras bagaimana mengkhianati-Nya tanpa ketahuan. Weleh…weleh… memang menakjubkan makhluk yang disebut manusia itu, kadang kegigihannya berbuat maksiat melebihi semangatnya beribadah. Naudzubillah…
***
Saya masih ingin kembali ke ayat di atas, di antara bagian kalimatnya yang sangat menarik bagi saya adalah (more…)
1 comment May 27, 2009
Karena
Karena aku jauh dari suci
Maka aku lewatkan sebanyak waktu yang kubisa
Untuk menghapus hina yang melumuri diri
…
Aku tahu setan akan tetap menerpaku dari segala mata arah
Tetapi Allah membuka pintu taubat-Nya setiap saat
…
Hamba yang tak tahu diri ini hanya berharap
Hidayah tak dicabut-Nya walau sekejap
3 comments March 19, 2009
Kita da’i, bukan hakim
Ini perkara berat.
Coba jawab pertanyaan saya yang satu ini. Dalam seluruh periode kehidupan yang sudah antum jalani, pernahkah antum berbuat dosa? Kalau antum jawab belum, maka kemungkinannya hanya tiga.
Kemungkinan pertama: antum manusia yang belum dewasa/baligh/mukallaf. Bagi antum tentu seluruh hukum syari’at belum berlaku, jadi mana mungkin antum punya dosa.
Kemungkinan kedua: antum bukan manusia, tapi malaikat. Karena malaikat selalu patuh pada perintah-Nya dan tak dikaruniai hawa nafsu.
Tetapi jika antum sudah baligh, kemudian membaca tulisan ini dari browsing di internet atau dari buletin yang hasil mungut di jalan, dan jawaban antum tetap “belum!” maka kemungkinan ketiga adalah: antum bohong! (soalnya sepengetahuan saya, malaikat nggak browsing lewat internet:)). Ironisnya, bohong itu sendiri juga dosa.
Mengapa saya begitu yakin dengan pernyataan saya di atas? Itu sudah jelas, dalilnya gamblang,
“Setiap anak Adam (manusia) mempunyai salah (dosa), dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”
[HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah]
Hanya para Nabi dan rasul yang ma’shum (dijaga oleh Allah dari dosa) sehingga langsung diingatkan begitu melakukan dosa/kesalahan, selain mereka tidak.
Termasuk kita. Meski sudah bergelar da’i, aktivis atau ustadz, bukan berarti kita lepas dari godaan setan dan hawa nafsu. Iman ada naik dan ada turun.
Setiap kita lengah dan jauh dari-Nya maka saat itulah setan dan hawa nafsu memegang kendali menggiring kita pada kemaksiatan. Setan punya cara-cara khusus untuk menggoda orang-orang yang pemahaman agamanya lebih tinggi. Cukuplah itu kita pahami dan tidak saya panjang lebarkan di sini. Saya punya penekanan lain untuk artikel ini.
Di sisi lain, setiap dosa (baik besar maupun kecil) dapat terhapus dengan taubat.
“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari sebelah barat, maka Allah menerima taubatnya.”
[HR. Muslim]
“Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang telah lalu.”
(Qs. al-Anfâl [8]:38 )
Di sinilah pentingnya sebuah kesadaran. Kesadaran bahwa semua orang bisa dan mungkin berbuat dosa, sekaligus bisa pula diampuni dosanya dengan bertaubat.
Kesadaran ini akan membawa kita pada penilaian yang lebih adil kepada obyek dakwah. Tidak memandang mereka sebagai pendosa mutlak, atau ahli neraka, sedang kita sebaliknya adalah ahli surga.
Ini juga akan mencegah kita dari sikap menghakimi, kemudian beralih pada sikap membimbing dan mengayomi.
Setiap orang berhak atas kesempatan kedua/second chance untuk kembali ke jalan-Nya sebelum nyawa sampai di tenggorokan.
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan menerima taubat seseorang, sebelum nyawanya sampai di tenggorokan (sebelum ia sekarat).”
[HR. at-Tirmidzi].
Jangan sampai kita yang bukan siapa-siapa ini menutup kesempatan itu karena pandangan picik hitam dan putih belaka.
Tugas da’i bukan tuding sana, tuding sini dengan tuduhan kafir, sesat, ahli neraka, ahli bid’ah dan sebagainya. Tidak!
Jangan merasa kewajiban dakwah antum telah selesai dengan memvonis manusia begini dan begitu.
Tugas dan kewajiban da’i adalah menyeru agar mereka-mereka yang telah jauh melenceng dapat kembali lagi ke jalan yang lurus. Melalui hikmah, perkataan yang baik dan dialog yang nyaman.
Ingatlah bahwa seorang da’i sejatinya bersemboyan, ” nahnu minhum, nahnu lahum, nahnu ma’ahum” yang artinya, ” kami berasal dari kalian, kami ada untuk kalian dan kami bersama kalian”.
Menjauh dari obyek dakwah dengan alasan untuk mensucikan diri, atau mengecap obyek dakwah sebagai orang kafir, sesat dan ahli neraka, lalu sibuk dengan diri sendiri jelas bertentangan dengan semboyan ini.
Semoga kita semua diberikan keistiqomahan untuk selalu menyerukan kebenaran, dengan cara-cara yang benar pula.
3 comments February 7, 2009
Sudahkah kita berilmu?
Malam yang lalu, iseng saya ketikkan nama lengkap saya di kotak pencarian Google. Muncul 150 hasil yang memang tidak semuanya relevan. Tapi yang membuat saya kaget, ada satu link yang tidak saya duga akan memuat nama saya di sana. Penasaran, saya klik link tersebut dan sampailah saya di Blog Rohis HMA (Himpunan Mahasiswa Arsitektur) UNS. Subhanallah… Terharu saya melihat sekelumit tulisan setengah jadi yang pernah saya buat terpampang di sana.
Sebagai apresiasi terhadap para pengurus Rohis HMA itulah, tulisan ini saya hadirkan kembali dalam kondisi yang lebih utuh.
Sudahkah kita berilmu?
Mari bicara tentang ilmu. Ada dua hadits tentang ini yang menarik untuk didiskusikan. Hadits pertama bunyinya:
” Mencari ilmu (thalabul ilmi) wajib hukumnya bagi setiap muslim.”
Hadits kedua berbicara tentang amal jariyah, yaitu amal yang tidak terputus pahalanya walau seorang muslim telah meninggal dunia, di antara tiga amal itu rasulullah juga menyebut, ” … ilmu yang bermanfaat, …” Ini redaksi lengkapnya:
Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda: “Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad).
Dalam hadits yang pertama muncul kekhasan Islam dalam memerintahkan sesuatu, yaitu menekankan pada proses dan bukan semata-mata hasil. Hadits itu tidak menuntut kita jadi pinter kan? Hadits itu menuntut kita agar berusaha untuk pinter dengan segala daya dan upaya. Tapi kalau ternyata kenyataannya dalam ilmu tertentu itu kita nggak bisa pinter-pinter juga, kewajiban kita toh sudah tertunaikan.
Soalnya tidak bisa dipungkiri bahwa tiap orang punya kelebihan dan kelemahan yang berbeda-beda dalam memahami suatu ilmu. Jadi kalo antum, misalnya udah kuliah di Sipil mati-matian tapi nggak mudeng-mudeng juga karena keterbatasan yang ada pada antum, maka tidak mengapa.
He..he.. ketahuan kalo saya lagi nyari legitimasi ya…
Tapi itu kalo kita cuma pengin lepas dari tuntutan kewajiban saja, coba lihat hadits kedua! Hadits ini menunjukkan tingkatan yang lebih tinggi dan tuntutan yang lebih tinggi pula bagi seorang muslim. Dalam hadits ini, kalo pengin dapet pahala yang tidak terputus sampe kiamat ada dua syarat (yang hubungannya sama ilmu):
1. Punya ilmu
Tuh, tidak sekedar mencari, tapi harus dapet ilmunya. Artinya menguasai ilmu itu.
2. Ilmu itu bermanfaat
Selaras dengan hadits lain yang bunyinya, ” Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.”
Nah, coba refleksikan ke diri kita. Saat ini barangkali kita sudah cukup bersemangat mencari ilmu. Kuliah, baca buku, surfing internet, kajian, dsb. Bisa jadi kita udah lepas dari tuntutan hadits pertama (bisa jadi lho, soalnya kadang males juga kan berangkat kajian, kuliah and baca buku?). Tapi sudahkah kita mendekati keinginan hadits kedua? Untuk mengetahuinya kita perlu selidiki dulu dua hal di atas.
Pertama, dari mana kita tahu kita telah berilmu?
Di sekolah ada metode yang sering digunakan untuk menilai seberapa berilmunya kita. Betul, dengan ujian . Ujian memberi kita gambaran seberapa besar kemampuan kita dalam bidang yang diujikan itu, kecuali kalo kita nyontek atau curang. Sayangnya memang tidak semua ilmu bisa dideteksi kadarnya dari metode ini, mengingat begitu bervariasinya ilmu yang musti kita pelajari. Maka sebenernya ada metode yang lebih mudah, lebih murah dan lebih akurat menurut saya untuk mendeteksi kadar ilmu kita.
(dulu tulisan ini terpotong sampai di sini… berikut lanjutannya setelah 1,5 tahun berlalu)
2 comments December 2, 2008
Kematianku
Kematian pasti menemukanku.
Tak peduli sejauh apa berlari, setebal apa tembok tempat sembunyi.
Kini atau nanti, tak diketahui. Tak perlu harus sampai rambut menguban, tak perlu menunggu punggung membungkuk.
Maka kan kusambut ia dengan senyum, segenggam amal bertetes peluh dan darah, terbungkus rindu akan kenikmatan abadi.
Tuhan, biarlah ia dekat saja, sebelum nafsu mengajakku berpaling.
1 comment November 29, 2008
