Archive for December, 2008
Sudahkah kita berilmu?
Malam yang lalu, iseng saya ketikkan nama lengkap saya di kotak pencarian Google. Muncul 150 hasil yang memang tidak semuanya relevan. Tapi yang membuat saya kaget, ada satu link yang tidak saya duga akan memuat nama saya di sana. Penasaran, saya klik link tersebut dan sampailah saya di Blog Rohis HMA (Himpunan Mahasiswa Arsitektur) UNS. Subhanallah… Terharu saya melihat sekelumit tulisan setengah jadi yang pernah saya buat terpampang di sana.
Sebagai apresiasi terhadap para pengurus Rohis HMA itulah, tulisan ini saya hadirkan kembali dalam kondisi yang lebih utuh.
Sudahkah kita berilmu?
Mari bicara tentang ilmu. Ada dua hadits tentang ini yang menarik untuk didiskusikan. Hadits pertama bunyinya:
” Mencari ilmu (thalabul ilmi) wajib hukumnya bagi setiap muslim.”
Hadits kedua berbicara tentang amal jariyah, yaitu amal yang tidak terputus pahalanya walau seorang muslim telah meninggal dunia, di antara tiga amal itu rasulullah juga menyebut, ” … ilmu yang bermanfaat, …” Ini redaksi lengkapnya:
Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda: “Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad).
Dalam hadits yang pertama muncul kekhasan Islam dalam memerintahkan sesuatu, yaitu menekankan pada proses dan bukan semata-mata hasil. Hadits itu tidak menuntut kita jadi pinter kan? Hadits itu menuntut kita agar berusaha untuk pinter dengan segala daya dan upaya. Tapi kalau ternyata kenyataannya dalam ilmu tertentu itu kita nggak bisa pinter-pinter juga, kewajiban kita toh sudah tertunaikan.
Soalnya tidak bisa dipungkiri bahwa tiap orang punya kelebihan dan kelemahan yang berbeda-beda dalam memahami suatu ilmu. Jadi kalo antum, misalnya udah kuliah di Sipil mati-matian tapi nggak mudeng-mudeng juga karena keterbatasan yang ada pada antum, maka tidak mengapa.
He..he.. ketahuan kalo saya lagi nyari legitimasi ya…
Tapi itu kalo kita cuma pengin lepas dari tuntutan kewajiban saja, coba lihat hadits kedua! Hadits ini menunjukkan tingkatan yang lebih tinggi dan tuntutan yang lebih tinggi pula bagi seorang muslim. Dalam hadits ini, kalo pengin dapet pahala yang tidak terputus sampe kiamat ada dua syarat (yang hubungannya sama ilmu):
1. Punya ilmu
Tuh, tidak sekedar mencari, tapi harus dapet ilmunya. Artinya menguasai ilmu itu.
2. Ilmu itu bermanfaat
Selaras dengan hadits lain yang bunyinya, ” Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.”
Nah, coba refleksikan ke diri kita. Saat ini barangkali kita sudah cukup bersemangat mencari ilmu. Kuliah, baca buku, surfing internet, kajian, dsb. Bisa jadi kita udah lepas dari tuntutan hadits pertama (bisa jadi lho, soalnya kadang males juga kan berangkat kajian, kuliah and baca buku?). Tapi sudahkah kita mendekati keinginan hadits kedua? Untuk mengetahuinya kita perlu selidiki dulu dua hal di atas.
Pertama, dari mana kita tahu kita telah berilmu?
Di sekolah ada metode yang sering digunakan untuk menilai seberapa berilmunya kita. Betul, dengan ujian . Ujian memberi kita gambaran seberapa besar kemampuan kita dalam bidang yang diujikan itu, kecuali kalo kita nyontek atau curang. Sayangnya memang tidak semua ilmu bisa dideteksi kadarnya dari metode ini, mengingat begitu bervariasinya ilmu yang musti kita pelajari. Maka sebenernya ada metode yang lebih mudah, lebih murah dan lebih akurat menurut saya untuk mendeteksi kadar ilmu kita.
(dulu tulisan ini terpotong sampai di sini… berikut lanjutannya setelah 1,5 tahun berlalu)
2 comments December 2, 2008
