Posts filed under 'My Diary'
Dia dan cemburunya
Ia percaya pada saya.
Bahwa saya tidak akan berbuat yang aneh-aneh di belakangnya. Bahwa saya tidak berniat untuk beristri dua. Bahwa saya hanya berteman saja dengan wanita-wanita lain yang ada di dunia. Dan bahwa ialah satu-satunya wanita yang saya cinta.
Ia percayai itu semua dengan segenap hatinya. Sungguh. Tapi itu tak pernah menghalanginya untuk mencemburu meski pada hal-hal yang paling tak rasional sekalipun.
Ia mencemburu pada teman, adik kelas, tetangga, bahkan orang lewat. Ia bahkan berniat mencemburu terhadap anak-anak kami kelak, jika saya mencintai mereka lebih dari cinta saya padanya. ^_^
Kadang ia pun cemburu pada dakwah, jika saya harus meninggalkan dirinya untuk itu. Namun buru-buru dihilangkannya cemburu itu demi menyadari bahwa dakwah adalah tanda cinta saya pada Allah swt.
Hanya dengan Allah dan Rasul-Nya saja istri saya yang pencemburu itu tak berani bersaing berebut cinta.
Dari istri saya itu, saya belajar,
Bahwa cemburu adalah bentuk lain dari cinta. Lebih gelap, tak semerah cinta, tapi tetap hangat.
***
Saya menikmati cemburunya seperti saya menghayati cintanya.
Istriku, terimakasih untuk selalu mencemburu.
1 comment November 28, 2009
Istri saya itu
Hari ini ia pasti sedang sibuk.
Sebagaimana hari ini, hari-harinya yang kemarin juga selalu penuh dengan kesibukan.
Kebanyakannya karena saya. Karena baju saya yang lecek, celana saya yang kotor, bekal makanan saya yang belum matang, lantai yang saya tumpahi dengan air teh, Qur’an saya yang ketinggalan, susahnya saya dibangunkan untuk mandi, dsb.
Hampir segala kesibukannya itu diakibatkan oleh hadirnya saya dalam hidupnya.
Sejak kapan? Sejak kami menikah.
Iya, tepat sejak dua bulan lalu. Sejak untuk pertama kalinya saya mengucap kalimat “qabul” sebagai penghalal hubungan kami berdua. Yang mengukuhkan diri saya sebagai suami untuknya.
***
Menjadi suami seharusnya menjadikan saya pelindung yang kuat baginya. Penghapus air matanya. Pemenuh kebutuhannya. Penghibur laranya…
Tapi alangkah sabarnya ia menghadapi diri saya yang masih jauh dari itu semua. Begitu pemaafnya ia atas harapan dan cita yang belum sanggup saya wujudkan dengan sepenuh tenaga. Begitu pengertiannya ia akan kelemahan-kelemahan suaminya yang maunya menang sendiri itu.
Maka ia tak pernah lelah tersenyum, tak pernah berhenti untuk sibuk, menekuni pengabdiannya pada Allah dengan melayani sang suami sepenuh jiwa dan raga.
Tak peduli jika suaminya akan membuatnya menangis lagi. Tak peduli begitu lemahnya ingatan sang suami untuk mencatat kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan.
Dia tetap sibuk.
Seperti juga hari ini dan hari-hari sebelum ini.
***
Istriku,
engkaulah tulang rusuk yang ditakdirkan menguatkan dadaku
…
4 comments October 8, 2009
Kematianku
Kematian pasti menemukanku.
Tak peduli sejauh apa berlari, setebal apa tembok tempat sembunyi.
Kini atau nanti, tak diketahui. Tak perlu harus sampai rambut menguban, tak perlu menunggu punggung membungkuk.
Maka kan kusambut ia dengan senyum, segenggam amal bertetes peluh dan darah, terbungkus rindu akan kenikmatan abadi.
Tuhan, biarlah ia dekat saja, sebelum nafsu mengajakku berpaling.
1 comment November 29, 2008
Jika harus memilih…
Jika suatu saat jama’ah ini terpecah – naudzubillahi min dzalika – manakah kiranya yang saya pilih?
Tentu tetap bersama jama’ah.
Bukan karena fanatik buta,
Tetapi karena manhaj jama’ah ini lurus, pendirinya tulus, tujuannya ikhlas. Jikalau kemudian terjadi penyimpangan di sana-sini, pastilah oknum-oknum saja pelakunya.
Sungguh, jama’ah ini bukan jama’ah malaikat. Jika mereka yang pernah banyak berbuat saja bisa khilaf, apalagi kita yang sedari dulu hanya banyak menonton saja?!
Bagi saya, memperbaki dari dalam adalah jauh lebih baik daripada melarikan diri mencari keselamatan pribadi…
3 comments November 10, 2008
Pekan Buku Jakarta
Alhamdulillah setelah bergelantungan selama 1,5 jam lebih di dalam Bus Transjakarta, siang ini – 6 Juli 2008 – saya dan akh Supri berhasil memijakkan kaki di Istora Senayan, tempat berlangsungnya Pekan Buku Jakarta. Meski tidak membawa pulang apa-apa alias gak beli barang sebukupun, saya tetap puas karena berhasil bertemu muka dengan dua karib saya yang telah lama tak bersua. Akh Siswanto dan Akh Didin.
Pulangnya, untuk pertama kalinya kami berhasil mengelilingi Stadion Gelora Bung Karno secara tidak sengaja akibat tersesat dalam pencarian masjid untuk sholat Ashar. Ini dikarenakan petunjuk yang salah dari salah seorang oknum akh yang meyakini bahwa Gelora Bung Karno punya pintu ke-17. Padahal jelas-jelas kita semua telah membuktikan dengan mata kepala, pundak, lutut, kaki, bahwa tiada pernah ada benda yang berwujud sebagai pintu ke-17 itu. Lha wong pintunya cuma ada delapan kok !!!???
‘Ala kulli hal, akhirnya kita semua berhasil pulang ke tempat tinggal masing-masing dengan selamat. Kembali ke propinsi kita masing-masing, Jawa Barat (Bekasi), Jakarta (Meruya) dan Banten (Tangerang).
1 comment July 12, 2008
Mabit Istimewa…
Jum’at malam ini, 11 Juli 2008 begitu istimewa. Kenapa? Karena akhirnya setelah sekian lama, saya bisa menghadiri kembali majelis ilmu DR. Mu’inudinillah Bashri, MA kebanggaan ikhwah solo itu. Tapi bukan karena saya balik lagi ke Solo, justru Ustadz Mu’in lah yang bertandang ke Masjid Al Qolam, masjidnya Yayasan Iqra’ (iya, yang catnya ijo, yang ada di film sang murabbi itu…).
Mabit kali ini rupanya banyak bonusnya juga lho. Setelah beberapa menit duduk di ruang utama masjid saya baru sadar kalo Ustadz Mashadi yang berjenggot lebat dan memiliki tatapan mata yang tajam itu hadir bersama kami sebagai peserta. Trus sambil menunggu kedatangan Ustadz Mu’in, kami ditausiyahi oleh Ustadz Khaldun Salamah, asli Yordan, dulu pernah mengajar Ustadz Mu’in di LIPIA. Untungnya beliau bisa bahasa Indonesia, kalo nggak barangkali kita gak mudeng apa-apa
Pas wudhu mo tidur, Chaerul Umam* (sutradara Ketika Cinta Bertasbih) dateng untuk ikutan Qiyamul Lail yang disambung kajian subuh paginya. Sayangnya nggak ada casting…
Esok hari, ba’da kajian subuh, kami langsung sarapan gratis pake gule kambing dari infaq salah seorang ikhwah yang tidak diketahui namanya. Mak nyusss!!!
Sayangnya yang seperti ini gak selalu ada tiap minggunya. Bersyukurlah antum yang masih di kampus. Deket ama ustadz, deket ama kajian, sering mabit, sering dirasah. Di dunia luar sana, “kemewahan” seperti itu sunguh sangat jarang bisa kita rasakan.
Note:
* Setelah lama bermukim di sini akhirnya saya tahu kalo Chaerul Umam yang malam itu “CUMI” alias Cuma mirip doang, he..he..he..
1 comment July 12, 2008
