Posts filed under 'Tulisan Lama'

Menutup Pintu Kekerasan

Salah satu tulisan yang saya buat dua tahun yang lalu, terakhir di edit tanggal 30 April 2007, sepertinya masih relevan untuk hari ini.^_^

***

Dialah Qabil…

Entah apa yang ada dalam pikiran Qabil saat ia memutuskan untuk membunuh Habil, saudara kandungnya. Semuanya gara-gara satu masalah sepele, ayahnya hendak menikahkan Habil dengan gadis yang lebih cantik dari yang akan dinikahkan dengannya. Seorang gadis yang telah lama ia idamkan untuk menjadi istrinya.

Dengki menjadikannya lupa diri, ia bunuh Habil. Tidak peduli, bahwa ini akan mencoreng nama ayahnya – Nabi Adam as – yang begitu mulia. Tidak peduli, bahwa ini berarti pembangkangan terhadap keputusan Allah yang lebih memilih persembahan Habil ketimbang persembahan busuknya.

Qabil telah gelap mata! Maka ia terabadikan dalam Al Qur’an sebagai pioner pelaku kejahatan terhadap manusia (QS Al Ma’idah: 27-31). Ialah pencetus pembunuhan terhadap manusia untuk pertama kali. (more…)

Add comment November 24, 2009

Fitrah Bosan

Masih dalam edisi mengenang SKI…

Fitrah bosan

Bosan adalah fitrah. Ini sih kesimpulan saya sendiri. Masih menurut saya , Allah itu tahu kalau kita gampang bosan. Makanya Allah memerintahkan kita untuk menyembah-Nya dengan cara yang bermacam-macam. Supaya kita tidak mudah bosan.

Ada yang sifatnya amalan batin seperti zikir, tawakal, ikhlas. Ada yang sifatnya amalan badan seperti haji, sholat, jihad. Pun ada amalan dengan harta semacam infaq, zakat (kalo shodaqoh bukan termasuk amalan harta, soalnya ia tak selalu dalam wujud harta, contohnya senyum, shodaqoh juga kan?!).

Rasulullah dalam mengajarkan bacaan sholat misalnya, juga tidak dengan satu macam redaksi saja. Kalo kita baca buku ” Sifat Sholat Nabi “nya Syaikh Albani kita pasti akan tahu kalau versi bacaan sujud itu saja bisa mencapai lebih dari tiga macam.

Demikian juga untuk bacaan yang lain. Bahkan taawudz saja ada dua macem, ada yang seperti biasa antum baca dan ada yang seperti yang saya biasa baca, yang ditambah “…sami’il aliimi…”.Supaya kita tidak gampang bosan.

Qur’an yang 30 juz itu juga didesign membuat kita tidak bosan membacanya ketika sholat. Kalau kita jadi bosan itu mungkin gara-gara kitanya yang nggak banyak ngapal qur’an. Lha kalo yang dibaca cuma yang itu-itu aja (surat andalan: Qulhu, An Naas, Al Falaq) ya bakal bosen.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah betapa sesuatu yang rutin dilakukan dengan cara yang sama memang bisa berpotensi menimbulkan kebosanan pada diri manusia, bahkan untuk kegiatan yang ia tahu benar bermanfaat untuknya.

Maka variasi itu penting. Refresh itu penting. Jangan disepelekan. Rasulullah pernah bersabda, ” Jadiddu imanakum!”, perbaharuilah imanmu!

Tuh, bahkan iman pun harus direfresh!

Ini perlu saya sampaikan karena barangkali (barangkali lho…) para aktivis muda SKI yang sekarang lagi berkibar-kibar semangatnya ini, yang tiap harinya akan dipenuhi agenda dakwah dan syuro’ ini, lama kelamaan akan mengalami kebosanan pula yang berujung kefuturan (naudzubillahi min dzalik…) atau hengkangnya ia dari medan dakwah.

Kisah semacam ini sudah banyak terjadi.

Makanya refresh terus pola dakwah antum. Konsisten terhadap misi itu harus! Tapi tidak selalu harus dengan gaya dan cara yang sama.

Kalau syuro’ di sekre SKI sudah tidak menarik lagi, mungkin bisa dipertimbangkan untuk syuro di kantin, di lembah teknik, di kost akhwat, atau tempat manapun yang dirasa aman, syar’i dan tdk menimbulkan fitnah (syuro’ di kuburan jelas bukan alternatif yang baik berdasar ini, he..he..).

Atau juga tidak harus tempatnya yang diubah tapi suasananya, urutan acaranya, dan lain-lain. Kalau harus ganti ketua SKI tiap minggu demi alasan refresh, ini jelas mengada-ada. Kalau yang tausiyah, atau yang tilawah digilir sepertinya layak dicoba.

Pun demikian juga dengan metode dakwah kita pada obyek dakwah. Bisa jadi mereka sudah mulai bosan dengan model kajian yang begitu-begitu saja. Mungkin mereka sudah jenuh melihat pamflet-pamflet kita yang desainnya nggak kunjung berkembang. Atau bahkan bisa jadi mereka bosan karena yang ngajakin mereka kita terus dan tidak ada perhatian pengurus yang lain kepada mereka. Saatnya perbaharui itu semua. Sekarang? Iya sekarang, sebelum semua terlanjur bosan!

Add comment October 8, 2009

Sudahkah kita pantas?

Boleh lah kalau beberapa tulisan terakhir ini disebut sebagai ” Edisi Mengenang SKI”. Rasanya aneh memang merasa tertausiyahi oleh diri sendiri, tapi begitulah adanya.

Membaca kembali tulisan-tulisan yang saya susun sendiri di masa peluh keringat aktivitas dakwah kampus itu masih deras membanjir, menjadi tamparan tersendiri bagi diri. Seolah saya yang sekarang ini begitu jauh dari sosok itu dalam menggeluti dakwah. Begitu manja dan terlena.

Semoga antum tak keberatan menyimaknya bersama saya, sebuah tausiyah dari saya, untuk diri saya sendiri…

Sudahkah kita pantas ?

Pada suatu malam Rasulullah bangkit dari istirahat malamnya kemudian seperti biasa mengambil air wudhu untuk menghadap Tuhannya dalam sepenuh kepasrahan.

Betapa terkejutnya Aisyah yang terbangun kala itu ketika mendapati kekasihnya masih saja khusyuk bertaqarrub ilallah meski kakinya bengkak karena lama berdiri dalam sholat malam. Maka begitu Rasulullah selesai bermunajat, Aisyahpun segera menghampiri pujaan hatinya itu dan dengan nada cemas bercampur heran ia bertanya,” Ya Rasulullah, bukankah engkau ini seorang yang ma’shum, seluruh dosa yang lalu dan yang akan datang telah Allah ampuni dan sungguh engkau telah dijamin masuk surga. Lalu mengapa engkau harus beribadah sekeras ini?”

Sambil tersenyum Rasulullah menjawab dengan tenang,” Tidak bolehkah aku bersyukur pada Tuhanku?”

Jauh sebelum itu, ketika Khadijah masih di sisi Rasulullah, ketika turun wahyu yang memerintahkan Rasulullah menyeru manusia pada jalan Allah, rasulullah berkata, “sungguh telah habis waktu untuk beristirahat…” dan sungguh sejak saat itu rasulullah tidak pernah berhenti dan beristirahat dari memikirkan umat dan menyerukan dakwah ilallah.

Saudaraku, demikianlah teladan yang telah diberikan Rasulullah pada kita tentang bagaimana seharusnya kita beramal untuk meraih ridho Allah SWT. Begitupun para sahabat.

Masih ingat bukan bagaimana Abu Bakar Ash Shidiq menginfaqkan seluruh hartanya untuk membiayai sebuah peperangan di jalan Allah dan hanya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya bagi keluarganya?

Atau sudahkah kita lupa dengan kisah Mush’ab bin Umair, pemuda terganteng Mekah waktu itu, yang pakaiannya paling bagus, yang digandrungi gadis-gadis mekah namun rela mengorbankan segala yang dimilikinya bahkan meninggalkan ibu yang sangat dicintainya demi dakwah ilallah. Hingga ketika syahid menjemputnya bahkan kain kafan yang dimilikinya tidak mampu menutup seluruh tubuhnya.

Mungkin kita memang sudah lupa, atau setidaknya pura-pura lupa dengan semua fakta sejarah yang menunjukkan bahwa untuk menggapai surga tidak bisa melalui jalan yang bertabur bunga dan senang. Yang nyaman, sejuk dan datar. Tidak! Bahkan sejarah menunjukkan bahwa kemuliaan syahid hanya didapat oleh mereka yang berjuang keras, menerjang badai, mendaki gunung kesulitan, menetapkan langkah pada jalan yang berpijar panas dan membakar.

Maka heranlah saya atas ungkapan ini : “…kita tidak usah terlalu ngoyo* dalam berdakwah, akhi!” Saya justru bertanya, “ Memangnya sudah sengoyo apakah kita dalam jalan ini? Sudah seberapa yang kita beri untuk dakwah ini? Sudah pantaskah kita mengharap surga atas semua ini? “

Sungguh saya tidak berani mendengar jawabnya karena saya akan terlalu malu karenanya…

*Ngoyo: bahasa jawa, artinya ‘berlebihan berusaha’

Add comment October 8, 2009

Maafkan saya seribu kali…

Sebuah surat, yang pernah saya tuliskan bagi saudara-saudara seperjuangan di SKI FT UNS saat masih menjabat sebagai Ketua Umumnya. Kini saya persembahkan untuk antum semua, yang pernah terluka akibat saya…

Maafkan saya seribu kali…

Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu akhirnya hal yang saya idam-idamkan dalam SKI ini terwujud juga. Suasana terbuka dimana pengurus yang satu dan lainnya dengan penuh itikad baik saling mengkritik demi kemajuan bersama dapat terwujud dalam acara “Berhenti sejenak” kemarin Selasa.

Darinyapun saya belajar banyak.

Ternyata tidak setiap yang saya kira saya ketahui, benar-benar saya ketahui. Ternyata masih banyak rahasia yang tersembunyi. Gumpalan perasaan yang terus menyesak jiwa saudara-saudara yang saya cintai. Dan yang paling saya sesali, bahwa sebagian besarnya diakibatkan oleh saya. Duh!

Saya, seorang yang seharusnya bisa dijadikan tumpuan harapan, bank penyelesaian masalah, terkadang justru menimbulkan permasalahan-permasalahan baru yang menambah beban perjuangan.

Duh…duh..!

Seandainya ribuan ‘maaf’ dapat menyelesaikan masalah, tentu saya tak keberatan mengucapkannya untuk antum semua, tapi sungguh saya tahu itu takkan cukup. Saya perlu berubah dan bukan tidak mungkin antumpun harus berubah.

Perubahan itu membutuhkan energi yang besar, saudaraku. Sangat besar. Energi untuk bisa melihat diri dengan objektif. Mengenali kesalahan yang melekat padanya dan mengelupasnya, tak ayal pasti membawa perih. Tapi ini harus dilakukan, diupayakan. Tidak bisa tidak!

Maka kita harus saling menguatkan. Saling topang. Selangkah demi selangkah cita itu akan kita genggam.

Yudhy

… dalam ketermanguan di bulan suci …

Add comment October 8, 2009

Dari para nabi hingga kita kini

Ketika Rasululah hijrah dari Mekah, beliau meminta Ali ra untuk tinggal menggantikan beliau di tempat tidur. Bukan sebagai tumbal, tetapi untuk mengembalikan barang-barang titipan kaum kafir Quraisy yang selama ini dititipkan di rumah Rasulullah.

Lihatlah betapa pribadi menarik Rasulullah menjadikan musuhnya sekalipun menaruh kepercayaan yang luar biasa pada beliau. Sebagai seorang pribadi, beliau diterima di seluruh kalangan. Terbukti, kaum kafir Quraisy pernah menawarkan jabatan, harta dan wanita terbaik mereka untuk beliau dengan syarat beliau berhenti berdakwah. Artinya seandainya Rasulullah saw bersedia meninggalkan dakwah, niscaya mereka tidak berkeberatan jika beliau menjadi salah satu pemimpin mereka (more…)

Add comment April 26, 2008

Hamparan Kehidupan

Seringkali saat berada dalam situasi sulit kita merasa seolah menjadi satu-satunya makhluk yang menderita di muka bumi. Tak jarang, kita merasa tidak akan pernah bisa keluar dari masalah itu. Gelisah, cemas dan mengeluh. Tapi waktu telah membuktikan bahwa semua dugaan kita itu selalu salah (more…)

1 comment April 26, 2008

Mari Berdoa

Biasanya kalo pas kita dimintai bantuan seorang teman tapi lagi nggak niat pengen mbantu yang kita bilang adalah, “Afwan akhi kali ini saya cuma bisa mbantu dengan doa.” Biasanya juga, setelah mendengar kalimat ini pihak yang meminta bantuan langsung manyun trus menggerutu, ” Yee..sama juga bohong..!!”

Ternyata kita sering meremehkan arti penting do’a. Padahal kita tahu persis semua dalil yang ada selalu menempatkan do’a pada posisi yang sangat penting (more…)

4 comments April 26, 2008

Tentang budak

Banyak riwayat yang menceritakan betapa getolnya para sahabat dalam membebaskan budak dan mengkampanyekan kesamaan derajad manusia (bahwa yang membedakan mereka di hadapan Allah swt hanya ketaqwaan saja). Bahkan jihad dan perluasan wilayah Islam adalah manifestasi dari upaya luhur membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Tuhan.

Namun ketika kita membaca QS Al Ahzab:50&52 misalnya, atau QS. Al Mu’minun:6, kita akan mendapati bahwa dalam ayat-ayat ini perbudakan diakui dalam Islam. Bahkan menggauli budak wanita yang didapat dari peperangan diperbolehkan, halal! Lha trus piye? Kok jadi kayak standar ganda gini? (more…)

3 comments April 22, 2008

Kepada para perindu Surga

Sepertinya kita semua sepakat bahwa satu-satunya hal yang menjadi alasan seluruh pengorbanan kita di jalan dakwah ini adalah surga. Karena surga adalah simbol ridha Allah pada kita, tanda cinta-Nya, imbalan yang tak terkira indahnya.

Jika demikian, antum harus tahu cara efektif dan bergaransi untuk mencapainya (more…)

1 comment April 22, 2008

Bagaimana Ikhwan dan Akhwat saling mencinta

Hanya ada dua macam cinta. Yang pertama, cinta yang syar’i, yaitu cinta yang disebabkan karena Allah. Yang kedua, cinta yang ghairu syar’i, yaitu cinta yang disebabkan oleh selain Allah.

Cinta yang syar’i ini diperintahkan dalam Islam, bahkan ia menjadi syarat kesempurnaan iman. Tengok Hadits Arbain ke-13 berikut ini, Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah saw. Dari Rasulullah saw, beliau bersabda: “ Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhori dan Muslim) (more…)

7 comments April 22, 2008

Previous Posts


Arsip

Categories

Blogroll

My friends

Recent Comments

hak1m on Dia dan cemburunya
Yudhy on Kita da’i, bukan ha…
M.SINUH.A on Kita da’i, bukan ha…
perokok berat on Tentang budak
Yudhy Herlambang on About Me

Top Posts

Kalender Posting

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031