Sudahkah kita berilmu?
Malam yang lalu, iseng saya ketikkan nama lengkap saya di kotak pencarian Google. Muncul 150 hasil yang memang tidak semuanya relevan. Tapi yang membuat saya kaget, ada satu link yang tidak saya duga akan memuat nama saya di sana. Penasaran, saya klik link tersebut dan sampailah saya di Blog Rohis HMA (Himpunan Mahasiswa Arsitektur) UNS. Subhanallah… Terharu saya melihat sekelumit tulisan setengah jadi yang pernah saya buat terpampang di sana.
Sebagai apresiasi terhadap para pengurus Rohis HMA itulah, tulisan ini saya hadirkan kembali dalam kondisi yang lebih utuh.
Sudahkah kita berilmu?
Mari bicara tentang ilmu. Ada dua hadits tentang ini yang menarik untuk didiskusikan. Hadits pertama bunyinya:
” Mencari ilmu (thalabul ilmi) wajib hukumnya bagi setiap muslim.”
Hadits kedua berbicara tentang amal jariyah, yaitu amal yang tidak terputus pahalanya walau seorang muslim telah meninggal dunia, di antara tiga amal itu rasulullah juga menyebut, ” … ilmu yang bermanfaat, …” Ini redaksi lengkapnya:
Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda: “Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad).
Dalam hadits yang pertama muncul kekhasan Islam dalam memerintahkan sesuatu, yaitu menekankan pada proses dan bukan semata-mata hasil. Hadits itu tidak menuntut kita jadi pinter kan? Hadits itu menuntut kita agar berusaha untuk pinter dengan segala daya dan upaya. Tapi kalau ternyata kenyataannya dalam ilmu tertentu itu kita nggak bisa pinter-pinter juga, kewajiban kita toh sudah tertunaikan.
Soalnya tidak bisa dipungkiri bahwa tiap orang punya kelebihan dan kelemahan yang berbeda-beda dalam memahami suatu ilmu. Jadi kalo antum, misalnya udah kuliah di Sipil mati-matian tapi nggak mudeng-mudeng juga karena keterbatasan yang ada pada antum, maka tidak mengapa.
He..he.. ketahuan kalo saya lagi nyari legitimasi ya…
Tapi itu kalo kita cuma pengin lepas dari tuntutan kewajiban saja, coba lihat hadits kedua! Hadits ini menunjukkan tingkatan yang lebih tinggi dan tuntutan yang lebih tinggi pula bagi seorang muslim. Dalam hadits ini, kalo pengin dapet pahala yang tidak terputus sampe kiamat ada dua syarat (yang hubungannya sama ilmu):
1. Punya ilmu
Tuh, tidak sekedar mencari, tapi harus dapet ilmunya. Artinya menguasai ilmu itu.
2. Ilmu itu bermanfaat
Selaras dengan hadits lain yang bunyinya, ” Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.”
Nah, coba refleksikan ke diri kita. Saat ini barangkali kita sudah cukup bersemangat mencari ilmu. Kuliah, baca buku, surfing internet, kajian, dsb. Bisa jadi kita udah lepas dari tuntutan hadits pertama (bisa jadi lho, soalnya kadang males juga kan berangkat kajian, kuliah and baca buku?). Tapi sudahkah kita mendekati keinginan hadits kedua? Untuk mengetahuinya kita perlu selidiki dulu dua hal di atas.
Pertama, dari mana kita tahu kita telah berilmu?
Di sekolah ada metode yang sering digunakan untuk menilai seberapa berilmunya kita. Betul, dengan ujian . Ujian memberi kita gambaran seberapa besar kemampuan kita dalam bidang yang diujikan itu, kecuali kalo kita nyontek atau curang. Sayangnya memang tidak semua ilmu bisa dideteksi kadarnya dari metode ini, mengingat begitu bervariasinya ilmu yang musti kita pelajari. Maka sebenernya ada metode yang lebih mudah, lebih murah dan lebih akurat menurut saya untuk mendeteksi kadar ilmu kita.
(dulu tulisan ini terpotong sampai di sini… berikut lanjutannya setelah 1,5 tahun berlalu)
2 comments December 2, 2008
Kematianku
Kematian pasti menemukanku.
Tak peduli sejauh apa berlari, setebal apa tembok tempat sembunyi.
Kini atau nanti, tak diketahui. Tak perlu harus sampai rambut menguban, tak perlu menunggu punggung membungkuk.
Maka kan kusambut ia dengan senyum, segenggam amal bertetes peluh dan darah, terbungkus rindu akan kenikmatan abadi.
Tuhan, biarlah ia dekat saja, sebelum nafsu mengajakku berpaling.
1 comment November 29, 2008
Qurban untuk cinta…
Hakikat pengorbanan adalah merelakan sesuatu yang kita cintai untuk sesuatu yang jauh lebih kita cintai.
Ini memang bukan pernyataan para ulama, alias karangan saya sendiri, tapi saya tidak yakin antum punya alasan untuk membantahnya. Dasar saya sangat jelas. Mari kita tengok beberapa fakta sejarah untuk membuktikannya.
Kisah Habil dan Qabil
Saat mereka berebut calon istri, sang Ayah memberi solusi dalam bentuk pengorbanan. Siapa yang mampu mempersembahkan kurban yang diterima Allah swt akan mendapatkan sang gadis pujaan. Lalu Qabil marah dan membunuh Habil karena kurban busuknya ditolak Allah swt. Allah lebih menyukai unta gemuk yang dikorbankan Habil. Berikut bagaimana Al Qur’an menggambarkan kisah tersebut: (more…)
2 comments November 26, 2008
Jika harus memilih…
Jika suatu saat jama’ah ini terpecah – naudzubillahi min dzalika – manakah kiranya yang saya pilih?
Tentu tetap bersama jama’ah.
Bukan karena fanatik buta,
Tetapi karena manhaj jama’ah ini lurus, pendirinya tulus, tujuannya ikhlas. Jikalau kemudian terjadi penyimpangan di sana-sini, pastilah oknum-oknum saja pelakunya.
Sungguh, jama’ah ini bukan jama’ah malaikat. Jika mereka yang pernah banyak berbuat saja bisa khilaf, apalagi kita yang sedari dulu hanya banyak menonton saja?!
Bagi saya, memperbaki dari dalam adalah jauh lebih baik daripada melarikan diri mencari keselamatan pribadi…
3 comments November 10, 2008
Cantik dan tampan itu perlu…
Ketika memutuskan akan menikah, jangan pernah mengabaikan faktor ketertarikan fisik kepada si calon.
Benar, kita menikah hanya karena Allah, tapi itu bukan berarti kita tidak boleh berharap memiliki istri cantik atau suami tampan.
Mau sedikit cek dalil? Perhatikan hadits berikut:
“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”
(HR. Bukhori-Muslim)
Antum perhatikan yang saya garis bawahi di atas. Sekarang ini di dunia kita, aurat terpampang di mana-mana. Mode pakaian semakin ke sini semakin irit bahan. Barangkali akibat pemanasan global, manusia merasa perlu menggunakan pakaian yang melancarkan aliran udara biar nggak kepanasan, padahal jelas tidak sopan!
Lha kalo istri kita tidak menarik/cantik di mata kita, bagaimana ia akan menjadikan kita mampu menundukkan pandangan? Lha wong yang sliwar-sliwer di jalan itu berdandan habis-habisan plus permak make up dari setan pula. (more…)
8 comments November 8, 2008
Tenggelam dalam keringat
Satu hal yang harus kita pahami bersama. Bukan hanya bahwa tiada seorangpun di dunia ini yang sempurna, tetapi juga bahwa setiap orang niscaya akan atau pernah berbuat kesalahan dan dosa. Karena mereka yang ma’shum (dijaga dari berbuat dosa) itu hanyalah para Nabi dan Rasul.
Ini bisa dibuktikan dengan menukil keterangan dari Rasulullah saw tentang nasib manusia di Padang Mahsyar kelak. Dalam sebuah hadits, Rasulullah menggambarkan bahwa setiap manusia kelak akan merasa malu dengan seluruh amal buruknya hingga masing-masing tenggelam dalam keringat saking malunya. Ada yang selutut, seperut bahkan sampai mulut sesuai kadar perbuatan buruknya. Hilanglah harga diri dan kepercayaan diri. Hilang sudah ketokohan dan figuritas. Yang tersisa hanya diri yang hina berlumur dosa. (1)
Dari sini kita akan menyadari bahwa salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah swt pada kita di dunia adalah tertutupnya aib diri dari pandangan manusia. (more…)
Add comment November 3, 2008
Bukan siapa yang bicara…
Di antara manusia – bisa jadi kita – ada golongan yang susah untuk dinasehati. Ketika seseorang datang padanya untuk menyampaikan tausiyah, alih-alih mendengar dan menyimak dengan seksama, golongan ini justru sibuk mencari-cari kelemahan si penyampai nasehat.
Dalam benak oknum ini – yang sekali lagi bisa jadi di antaranya adalah kita – muncul kata-kata seperti ini,
“ Siapa sih loh? Udah ngerasa suci? Lebih suci dari gue gitu? Sok ngasih tahu segala!”
atau barangkali seperti ini,
“ Lha kamu sendiri kan lebih parah lagi, kamu kan suka begini, suka begitu, kamu tuh gak pantes ngasih nasehat, urusin aja dirimu sendiri dulu, ngapain aku ikutin kata orang munafik macam kamu.”
Atau yang lebih parah lagi mungkin seperti ini,
“ Udah ngaji berapa lama sih? Aku tuh levelnya lebih tinggi dari kamu, baru juga ngerti agama udah belagu, emangnya apa sih amalmu selama ini? Amalku kan lebih banyak, karir dakwahku kan lebih lama, udah deh gak usah rese!”
Ya, bisa jadi kata-kata ekstrim di atas tidak benar-benar terucap dari bibir mereka tetapi sesak memenuhi benak dan hati mereka lalu menyumbat telinga dan mengaburkan pandangan dari fakta kebenaran yang sedang terpapar di hadapan.
Sedihnya, ‘mereka’ yang saya sebut-sebut di atas kadang-kadang juga adalah ‘kita’ atau minimal saya deh supaya kesannya nggak nuduh.
Jika ini sering terjadi pada kita, maka kita perlu mengingat kembali sebuah kisah yang tercantum dalam Kitab Shahih Bukhari tentang pertemuan Abu Hurairah dengan setan berikut ini. (more…)
1 comment September 11, 2008
Surga dan Neraka
Ada sebuah hadist yang sangat menarik riwayat Imam Bukhari, terjemahnya:
” Nabi saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, “Surga ditutupi (dihijab) dengan hal-hal yang dibenci, dan neraka ditutupi dengan syahwat-syahwat.”
Saya mendengar hadist ini pertama kali saat kajian Ustadz Mu’in di NH bertahun-tahun yang lalu, kira-kira waktu awal-awal Ustadz Mu’in kembali ke Indonesia. Dalam kajiannya beliau menyampaikan bahwa setelah surga dan neraka diciptakan Allah memanggil para malaikat untuk melihat kedua ciptaan Allah tersebut. Kemudian mereka ditanya pendapatnya tentang keduanya.
Sontak para malaikat menjawab, ” Sungguh Ya Allah, tidaklah hamba-Mu mendengar disebut nama surga kecuali mereka akan berharap dimasukkan ke dalamnya, dan tidaklah hambamu mendengar disebut nama neraka kecuali mereka akan berlindung darinya.”
Kemudian Allah menutupi surga dengan hal-hal yang dibenci manusia dan menutupi neraka dengan syahwat yang disukai manusia. Maka setelah itu para malaikat menjadi khawatir neraka akan lebih dipilih oleh manusia ketimbang surga.
Jadi Akhi wa Ukhti fillah, kalau berjuang dalam dakwah terus kok rasanya justru dapet banyak kesulitan, nilai pada turun, duit semakin berkurang, maka bersyukurlah karena itu tandanya antum/antunna berada di jalan yang benar, insyaAllah.
Kebalikannya, jika antum pacaran misalnya (walaupun dengan label islami atau dalil hasil cari-cari di referensi orang-orang JIL) terus kok nilai malah naik, hidup terasa lebih berwarna, rejeki lancar, maka hati-hatilah bisa jadi antum telah mendapat istidraj dariAllah swt, artinya Allah menyesatkan antum karena kesesatan yang terus-terusan antum lakukan dan tidak lagi peduli untuk memberi petunjuk kepada antum. Seperti Fir’aun itu lho, dia itu kan ngerasa jadi Tuhan karena dikaruniai kesehatan yang luar biasa oleh Allah swt, kata Ustadz bahkan pilek aja Fir’aun itu nggak pernah.
Ingatlah bahwa surga itu nikmat yang luar biasa, maka perjuangan mencapainya tentu harus sepadan pula. Sedang untuk masuk neraka gampang saja, ikuti saja semua syahwat kita, insyaAllah langsung diterima gak pake syarat macem-macem. Bukankah kita pernah mendengar riwayat tentang betapa laparnya neraka akan orang-orang yang doyan maksiat? Terus pengin nambah dan nambah sampe-sampe Allah sendiri harus menginjak neraka itu agar diem gak rewel minta tambahan mangsa.
Jadi tetaplah bermandikan keringat kebaikan, bersimbah darah perjuangan, berlumuran tinta pena kebenaran, karena tetes peluh, aliran darah dan goresan pena kita itulah yang akan menjadi saksi sekaligus modal kita meraih ridha dan Jannah-Nya kelak insyaAllah.
2 comments September 7, 2008
Pekan Buku Jakarta
Alhamdulillah setelah bergelantungan selama 1,5 jam lebih di dalam Bus Transjakarta, siang ini – 6 Juli 2008 – saya dan akh Supri berhasil memijakkan kaki di Istora Senayan, tempat berlangsungnya Pekan Buku Jakarta. Meski tidak membawa pulang apa-apa alias gak beli barang sebukupun, saya tetap puas karena berhasil bertemu muka dengan dua karib saya yang telah lama tak bersua. Akh Siswanto dan Akh Didin.
Pulangnya, untuk pertama kalinya kami berhasil mengelilingi Stadion Gelora Bung Karno secara tidak sengaja akibat tersesat dalam pencarian masjid untuk sholat Ashar. Ini dikarenakan petunjuk yang salah dari salah seorang oknum akh yang meyakini bahwa Gelora Bung Karno punya pintu ke-17. Padahal jelas-jelas kita semua telah membuktikan dengan mata kepala, pundak, lutut, kaki, bahwa tiada pernah ada benda yang berwujud sebagai pintu ke-17 itu. Lha wong pintunya cuma ada delapan kok !!!???
‘Ala kulli hal, akhirnya kita semua berhasil pulang ke tempat tinggal masing-masing dengan selamat. Kembali ke propinsi kita masing-masing, Jawa Barat (Bekasi), Jakarta (Meruya) dan Banten (Tangerang).
1 comment July 12, 2008
Mabit Istimewa…
Jum’at malam ini, 11 Juli 2008 begitu istimewa. Kenapa? Karena akhirnya setelah sekian lama, saya bisa menghadiri kembali majelis ilmu DR. Mu’inudinillah Bashri, MA kebanggaan ikhwah solo itu. Tapi bukan karena saya balik lagi ke Solo, justru Ustadz Mu’in lah yang bertandang ke Masjid Al Qolam, masjidnya Yayasan Iqra’ (iya, yang catnya ijo, yang ada di film sang murabbi itu…).
Mabit kali ini rupanya banyak bonusnya juga lho. Setelah beberapa menit duduk di ruang utama masjid saya baru sadar kalo Ustadz Mashadi yang berjenggot lebat dan memiliki tatapan mata yang tajam itu hadir bersama kami sebagai peserta. Trus sambil menunggu kedatangan Ustadz Mu’in, kami ditausiyahi oleh Ustadz Khaldun Salamah, asli Yordan, dulu pernah mengajar Ustadz Mu’in di LIPIA. Untungnya beliau bisa bahasa Indonesia, kalo nggak barangkali kita gak mudeng apa-apa
Pas wudhu mo tidur, Chaerul Umam* (sutradara Ketika Cinta Bertasbih) dateng untuk ikutan Qiyamul Lail yang disambung kajian subuh paginya. Sayangnya nggak ada casting…
Esok hari, ba’da kajian subuh, kami langsung sarapan gratis pake gule kambing dari infaq salah seorang ikhwah yang tidak diketahui namanya. Mak nyusss!!!
Sayangnya yang seperti ini gak selalu ada tiap minggunya. Bersyukurlah antum yang masih di kampus. Deket ama ustadz, deket ama kajian, sering mabit, sering dirasah. Di dunia luar sana, “kemewahan” seperti itu sunguh sangat jarang bisa kita rasakan.
Note:
* Setelah lama bermukim di sini akhirnya saya tahu kalo Chaerul Umam yang malam itu “CUMI” alias Cuma mirip doang, he..he..he..
1 comment July 12, 2008
