Jika Noura tetanggamu, apakah kau akan menjadi Fahri untuknya?

April 5, 2008 at 9:46 am Leave a comment

Buat yang belom pernah mbaca “Ayat-ayat Cinta”nya Ustadz Habib mungkin bingung dan nggak mudheng dengan judul tulisan saya kali ini. Makanya gaul dong! Itu kan novel best seller yang keren banget! He..he..

OK deh, tak jelasin dikit aja sebagai prolog.

Noura adalah gadis mesir yang cantik yang sering disiksa ayahnya – Bahadur – yang ternyata bukan ayah kandungnya . Fahri, adalah tokoh utama dalam novel tersebut – seorang pemuda Indonesia yang hafizdh Qur’an dan gaul banget (baca: gaul = gaya ulama, he..he..).

Dalam cerita itu Fahri sangat prihatin pada nasib Noura yang tiap harinya selalu mendapat siksaan dari Bahadur. Pukulan, tendangan, jambakan dan minimal cacian menjadi menu sehari-hari Noura. Hingga suatu hari hatinya tergerak untuk menyampaikan pesan yang sangat indah pada Noura melalui Maria – tetangganya yang lain – gadis mesir juga, kristen koptik, cantik, dan juga naksir berat sama Fahri.

Pesan itu kurang lebih bunyinya : seandainya aku halal bagimu tentu akan kuusap air mata yang mengalir di pipimu … (ya beda-beda dikit gak papa lah! Saya juga dah agak lupa, soale mbacanya dah lama banget). Tidak cuma itu, Fahri juga mengusahakan advokasi bagi Noura dan menitipkannya pada seorang ustadz yang terpercaya untuk dilindungi dan dijauhkan dari Bahadur. Ini bukan resensi novel, jadi saya tidak akan meneruskan cuplikan kisahnya. Kita hanya akan mengambil pelajaran dari sini.

Bukan masalah romantismenya yang akan kita bahas, tapi tentang kepedulian Fahri. Keberaniannya untuk bertindak. Itu yang langka saat ini. Saya sendiri bahkan tidak yakin saya punya keberanian itu. Antum?

Coba saja, berandai-andai, jika tetangga depan rumahmu, sebelah rumahmu atau dekat kos-kosanmu, adalah seorang akhwat muslimah yang berusaha menjaga kehormatan dirinya, lalu ia dianiaya sebagaimana Noura. Oleh ayahnya sendiri, atau kakak lakilakinya atau pamannya, mampukah antum menjadi Fahri baginya? Saya tidak yakin.

Bahkan saya tidak yakin kalo antum bisa tahu ada kejadian itu karena terlalu disibukkannya diri antum dengan masalah-masalah dakwah. Masalah-masalah ummat kata antum. Seakan apa yang terjadi di sebelah rumah antum itu bukan masalah ummat!

Oh…, saya sebenarnya sedang memaki diri saya sendiri. Menghujat kekerdilan diri saya sendiri. Kelemahan iman saya, yang hanya mampu menolak dengan hati, tidak lebih.

Bahkan ketika mengandaikannyapun saya merasa tidak mampu, apalagi jika benar terjadi, atau bahkan memang terjadi?! Lalu antum? Saya berharap antum jauh lebih baik dari pada saya. Karena Noura dalam novel itu lahir bukan dari sekedar imajinasi, ia adalah potret nyata wajah dunia Islam saat ini. Bisa jadi Noura yang sebenarnya ada di sekitar kita, menunggu seorang Fahri yang akan berbuat sesuatu untuknya. Adakah itu adalah antum? Kita?!

Pun dengan antunna, para akhwat muslimah. Da’iyah! Akankah antunna mampu menjadi Maria yang melindungi Noura di rumahnya, yang mengusap air matanya, hal yang tidak bisa dilakukan Fahri untuknya. Padahal antunna jelas jauh lebih mulia dari Maria, antunna muslimah, Maria kristen! Tapi sanggupkah antunna berbuat sebagaimana yang ia lakukan?

Cukupkah bagi kita menasehatkan kesabaran pada Noura-noura itu? Meminta mereka untuk terus bertahan terhadap siksaan yang terus mengancam. Adakah memang saat ini kita selemah itu?! Adakah kita sesedikit itu?! Sesedikit jumlah kaum muslimin pada masa ta’sis di mekah yang diminta Rasulullah terus bersabar? Atau kita sebenarnya jauh lebih besar dari itu, tapi membuih, tidak berdaya.

Jikapun kita memang sesedikit itu, selemah itu, tidakkah ada di antara kita seorang Umar yang akan berkata, ” Bukankah kita dalam kebenaran ya Rasulullah? Bukankah engkau utusan Allah ya Rasulullah?” kemudian menampakkan kebenaran di hadapan musuhmusuh Islam dengan gagah. Adakah?

Bisa jadi apa yang terjadi pada Noura telah terdengar oleh telinga kita sejak lama. Telah mengusik jiwa kita sejak lama. Mungkin pula kita telah menolak kemungkaran itu dengan hati kita sejak lama. Tapi cukupkah itu? Cukupkah untuk membuktikan kecintaan kita pada-Nya? Saya takut Allah akan menghukum kita karena ini, menjadikan dosa atas diam kita ini. Karena bisa jadi sebenarnya kita mampu berbuat lebih, tapi urung kita lakukan. Karena kita takut. Akuilah. Karena kita takut. Padahal baru saja kemaren kita bilang kita hanya takut pada-Nya.

Mungkin saatnya kini untuk bertindak. Berbuat sesuatu untuk Noura. Tidak cuma dengan hati. Mungkin, ada cara setelah do’a untuk membebaskan Noura! Semoga Allah bukakan jalan itu pada kita. Bagi kita yang peduli.

Entry filed under: Tulisan Lama. Tags: , .

Ada cinta Tak akan ada cinta yang lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chatting

Download

Arsip

Kalender Posting

April 2008
M T W T F S S
    Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 23,850 hits

%d bloggers like this: