Maya dalam Nyata

April 5, 2008 at 2:47 am Leave a comment

Sejak kecil hingga dewasa ini pastinya sudah ribuan kisah fiksi yang kita simpan dalam memori kita. Mulai dari dongengan ibu sebelum tidur, cerita bersambung di koran, komik-komik, dan yang paling banyak tentu dari sinetron atau film yang kita tonton.

Meski setting dan alurnya berbeda, ada satu kesamaan umum dari semua kisah fiksi itu. Selalu ada tokoh protagonis dan antagonis. Semua kebaikan terwakili oleh protagonis, sedang antagonis menjadi simbol kejahatan mutlak. Hampir di semua kisah fiksi seperti itu. Ada memang yang keluar dari pakem ini, tapi pasti akan sangat sedikit bila kita hitung prosentasenya.

Saya cuma mengira-ngira, bisa jadi ini ada pengaruhnya pada pembentukan karakter kita, setidaknya saya.

Dalam kehidupan nyata terkadang kita memplot diri kita beserta orang-orang di sekeliling kita bagaikan penokohan dalam cerita. Lalu coba tebak siapa yang kita pilih sebagi tokoh protagonisnya? Tentu jawabnya jelas: kita sendiri! Maka tinggal ada dua pilihan buat yang lain: antagonis dan figuran (peran pembantu saya masukkan ke kategori ini).

Ini menyebabkan kebanyakan kita – atau setidaknya saya – merasa menjadi tokoh paling penting di jagat raya. Benar atau salah tergantung pada penilaian kita. Baik atau buruk tergantung kesesuaiannya dengan selera kita. Karena kita adalah protagonis! Mereka yang berseberangan tentu adalah antagonis, buruk dalam segala halnya! Selainnya hanyalah figuran, nggak penting! Sering seperti itu bukan?!

Saat terjadi sebuah peristiwa buruk dalam hidup kita dengan mudah kita menuding para ‘antagonis’ sebagai biang keladinya, tentu karena kita tidak mungkin berani menyalahkan sutradara! Sering pula kita mengabaikan para ‘figuran’ karena merasa mereka bukan siapa-siapa.

Kita lupa. Dunia nyata tidak se-maya cerita. Nyatanya, tidak ada protagonis murni di dunia. Sesungguhnya setiap manusia adalah protagonis sekaligus antagonis. Demikian karena keburukan dan kebaikan diilhamkan oleh Tuhannya bersamaan dalam dirinya.

Maka sejatinya tidak ada tokoh putih maupun tokoh hitam, semua jiwa adalah abu-abu. Ya, setiap jiwa adalah abu-abu! Sesungguhnya pula, bila kita menganggap yang lain figuran dalam kisah kita, tentu kita pun adalah figuran buat kisah mereka. Tak ada yang istimewa.

Kita – terutama saya – ternyata bukan tokoh terpenting di jagat raya. Bukan pula seorang yang selalu benar dalam tindaknya. Bukan kumpulan kebaikan maha sempurna. Kita ini manusia biasa diantara lautan manusia biasa.

Maka jangan berlagak seolah sebaliknya!

Entry filed under: Tulisan Lama. Tags: , , .

Saya penasaran…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chatting

Download

Arsip

Kalender Posting

April 2008
M T W T F S S
    Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 23,850 hits

%d bloggers like this: