Ujian cinta

April 5, 2008 at 10:06 am Leave a comment

Ada orang-orang yang disebut wali Allah. Yaitu orang-orang yang dicintai Allah lebih dari orang pada umumnya. Ternyata mereka ini tidak selalu bersorban dan bergamis panjang lho, bisa jadi di antaranya adalah kita, kalau kita memenuhi kualifikasi wali Allah itu. Apa saja kualifikasi itu bisa antum simak di hadits qudsi berikut ini:

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, Allah swt berfirman, ” Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka aku serukan perang padanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekat pada-Ku dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang Aku fardhukan baginya. Dan hambaku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sampai Aku mencintainya. Kalau aku sudah mencintainya, Aku adalah pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar; penglihatan yang ia gunakan untuk melihat; tangan yang ia gunakan untuk memukul; dan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Kalau ia meminta kepada-Ku, pasti aku kabulkan. Kalau ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti aku lindungi.”

Hadits yang luar biasa indah bukan?! Maukah antum menjadi salah seorang wali- Nya? Jangan cuma ngangguk-ngangguk, segera penuhi syarat-syaratnya!

Tapi untuk menjadi wali Allah, harus siap pula mendapat ujian cinta; dan tidak ada ujian cinta yang lebih berat daripada yang dirasakan para Nabi. Yang akan saya ceritakan di sini cuma beberapa saja.

Nabi Ibrahim as misalnya, ketika anak yang ditunggu-tunggu akhirnya lahir, lalu tumbuh menjadi bocah yang lucu dan menggemaskan, Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Inilah ujian cinta. Ibrahim as harus membuktikan bahwa cintanya pada Ismail tidak lebih besar dari cintanya pada Allah swt. Dan ia berhasil lolos dari ujian itu, antum sudah hapal kelanjutan kisahnya.

Nabi Yusuf memilih dipenjara ketimbang memenuhi keinginan seorang wanita. Wanita yang tidak cuma cantik, tapi juga berkuasa, yang telah mengurungnya dalam sebuah kamar tertutup, berdua saja, dan memasrahkan dirinya untuk dizinai.

Bayangkan! Eh, jangan ding ntar antum ngeres lagi! Maksud saya, buat antum yang laki-laki tulen pasti bisa membayangkan beraaattnya menolak godaanmacam begitu. Tapi Yusuf lolos dari ujian ini karena cintanya pada Allah swt. Ketika Allah telah cukup melihat bukti cintanya, akhirnya sang wanita jadi miliknya juga kan?! Makanya, nggak rugi deh milih cinta Allah.

Rasulullah saw pun demikian. Ketika beliau mulai agak tergantung pada Khadijah ra dan pamannya – Abu Thalib – Allah memanggil keduanya, hingga tiada lagi tempat bersandar kecuali pada Allah saja. Tahun itu menjadi tahun kesedihan bagi Rasulullah (aamul huzni), namun Allah segera mendatangkan pelipur lara yang dahsyat. Rihlah luar biasa: Isra’ dan Mi’raj. Dimana beliau bertemu langsung dengan kekasihnya, Allah swt. Maka sirna sudah semua derita itu.

Remehnya ujian cinta kita

Dibanding ujian cinta para pendahulu kita di atas, barangkali ujian cinta yang kita hadapi saat ini – virus merah jambu, merah saga dan sejenisnya – terlalu remeh. Nyatanya, ujian yang remeh-remeh itu berhasil juga mengeluarkan banyak aktivis dari jalan dakwah yang telah lama ia tempuh. Jadi waspadalah! Karena maksiat bisa terjadi tidak cuma karena ada niat, tapi juga kesempatan!

Sadar gitu lho, kalau kualitas kita itu jauh banget dibandingkan para nabi, shahabat, tabi’in ataupun tabi’ut tabi’in! Makanya jangan cari perkara! Nyerempet-nyerempet, main api, main mata. Karena nyerempet bisa lecet, main api kebakar, dan main mata bikin buta!

Rasanya tidak perlu saya ceritakan kisah-kisah kelam para mantan aktivis yang undur diri dari dakwah karena masalah cinta semu. Soalnya saya khawatir, bukannya membuat antum sadar, malah justru jadi inspirasi tersendiri untuk melakukan penyelewengan jenis baru. Cukuplah bagi kita untuk berhati-hati dengan diri sendiri. Kenali apa yang paling mudah menyelewengkan antum dari dakwah ini, lalu tinggalkan! Tidak ada jalan lain.

Maka mari saling mendoakan – saya dan antum – agar kita diberikan keistiqomahan. Sebuah kata yang selalu mudah diucapkan, namun sulit diamalkan. Sebuah kata yang berhasil menumbuhkan uban di kepala Rasulullah saw yang mulia. Sebuah kata yang teramat penting, hingga disyari’atkan untuk diwasiatkan kepada kaum muslimin setidaknya sekali setiap seminggu dalam khutbah jum’at. Wahai saudaraku, amantu billah tsummastaqim!

Entry filed under: Tulisan Lama. Tags: .

Bukti cinta Allah ke kita Renungan bujang lapuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chatting

Download

Arsip

Kalender Posting

April 2008
M T W T F S S
    Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 23,850 hits

%d bloggers like this: