Bagaimana Ikhwan dan Akhwat saling mencinta

April 22, 2008 at 1:00 pm 11 comments

Hanya ada dua macam cinta. Yang pertama, cinta yang syar’i, yaitu cinta yang disebabkan karena Allah. Yang kedua, cinta yang ghairu syar’i, yaitu cinta yang disebabkan oleh selain Allah.

Cinta yang syar’i ini diperintahkan dalam Islam, bahkan ia menjadi syarat kesempurnaan iman. Tengok Hadits Arbain ke-13 berikut ini, Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah saw. Dari Rasulullah saw, beliau bersabda: “ Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Sedangkan cinta jenis yang kedua itu batil dan tidak memberi manfaat, bahkan ia adalah sifat orang-orang musyrik. Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. (Q.S. Al Baqoroh 125)

Lihat, dalam ayat itu Allah tidak menyebut orang-orang musyrik sebagai orang yang sama sekali tidak mencintai-Nya, tetapi mereka itu mencintai yang lain sebagaimana mereka mencintai Allah! Kalo mencintai sesuatu dengan kadar cinta yang sama kepada Allah saja nggak boleh, apalagi mencintai sesuatu lebih dari cinta kita kepada Allah?! Antum bisa lihat Q.S. At Taubah: 24 untuk mendapat jawabannya.

Dari sini kita mendapat satu kaidah bahwa dalam saling mencinta, orang-orang mukmin tidak boleh keluar dari koridor ’cinta karena Allah’. Maksudnya, kita mencintai sesuatu atau seseorang karena hal-hal berikut ini:

– Allah memerintahkan kita untuk mencintainya
– Allah mencintainya
– Mendekatkan kita pada Allah
– Dalam batasan yang Allah tetapkan
– Agar kita dicintai Allah
– dan alasan lain setipe dengan lima hal di atas

Akibatnya, aplikasi dari kata ’mencintai’ ini menjadi berbeda-beda tergantung dari obyek cinta yang dimaksud.

Kalau obyek cinta ini adalah saudara seiman yang sesama jenis (maksudnya ikhwan dengan ikhwan; akhwat dengan akhwat) maka pengekspresiannya bisa lebih bebas.

Seorang sahabat pernah cerita ke Rasulullah kalo dia mencintai saudaranya seiman karena ketaatannya pada Allah, maka Rasulullah menyuruhnya menyampaikan perasaan itu agar cinta di antara mereka semakin bertambah.

Nah, untuk cinta jenis ini maka sering-sering SMS tausiyah, missed call tahajud, kirim hadiah, nonton bareng, ngaji bareng, nginep ke rumah dan berbagai kegiatan mubah dalam rangka mengukuhkan ikatan itu sangat dianjurkan. Dalam cinta jenis ini tentu syahwat sama sekali tidak ikut campur, lha kan sesama jenis. Kalo keduanya homoseks itu lain soal, he..he.. Hukumnya tentu haram dan tidak masuk kategori cinta yang saya maksudkan di atas.

Lain lagi kalo obyek cinta ini adalah suami atau istri kita yang telah sah. Maka pengekspresian cinta lebih bebas lagi. Syahwat, dalam cinta ini tidak dilarang. Bahkan ini adalah saat dimana syahwat bisa dimanfaatkan sebagai ladang pahala.

Bagaimana tidak? Lha wong memberi nafkah batin pada istri itu bernilai sedekah! Pun demikian, bukan berarti tanpa batas. Islam masih mengatur hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh sepasang suami istri. Misalnya, berhubungan di tempat umum, menyetubuhi istri dari belakang, menceritakan ke orang ketiga tentang hubungan yang dijalani dengan istrinya, dll. Saya harap antum nggak berpikiran ’ngeres’ dan segera kembali konsentrasi karena kita akan segera membahas jenis cinta yang lebih dekat dengan keseharian kita sebagai jomblo-jomblo bahagia.

Antum sudah tahu apa yang akan saya sampaikan bukan? Benar, ini adalah cinta antara ikhwan dan akhwat yang belum terikat oleh pernikahan. Dengan kata lain, keduanya masih jomblo. Bagaimana aplikasinya? Kalo cinta antara dua insan ini benar-benar karena Allah, tentunya cinta ini berjalan dengan batasan yang Allah tetapkan. Dan batasannya ternyata memang sangat banyak saudara-saudara! Sama aja dengan batasan interaksi antar ikhwan dan akhwat yang selama ini telah kita pelajari, di antaranya:

– Tidak berkhalwat (berdua-duaan) dan tidak di tempat yang sepi
– Menjaga pandangan
– Suaranya tidak dilemah lembutkan (untuk akhwat)
– Tidak berlebihan dalam kualitas dan kuantitas
– Tidak berkomunikasi lebih dari keperluan
– Tidak mengundang fitnah
– Tidak didorong syahwat
– dll

Lho kok susah banget?! Lha emang iya! Apa antum belum pernah denger kalo dunia ini penjara buat orang mukmin dan surga buat orang kafir?! Meski begitu, kalo mau sedikit berpikir dengan logika, antum akan sadar bahwa semua batasan tadi sebenarnya tidak merugikan kita dalam hal apapun! Justru lebih menjaga kehormatan kita. Kalau ada perasaan berat, itu bukan karena ini merugikan, tapi karena ini bertentangan dengan keinginan hawa nafsu kita. Bener kan?

Lalu bolehkan kita berharap lawan jenis kita mendapat kebahagiaan? Khawatir akan keistiqomahannya? Keamanannya? Jawabnya, ya jelas boleh, bahkan harus! Tapi dengan batasan-batasan di atas. Bohong kalo kita bilang kita mencintai Ukhti ”A” karena Allah tapi kita justru berusaha melakukan hal-hal yang dilarang Allah bersamanya. Menjauhkan dia dari jalan Allah dan jutru terjerumus bersamanya dalam dosa.

Di sinilah perlunya kehati-hatian. Contoh-contoh kegiatan yang saya sebut ketika membahas cinta antara ikhwan dengan ikhwan di atas tentu tidak relevan untuk dilakukan dengan saudara kita yang lawan jenis, karena jelas akan mengundang fitnah. Maka cara yang paling aman adalah mendoakannya. Membantu ketika dibutuhkan tentu tidak mengapa, asal memang tidak untuk cari kesempatan dan masih dalam batasan-batasan di atas. Kalau kita ingin mencari di luar itu, kayaknya perlu kita lihat kembali niat kita. Benar karena Allah atau karena yang lainnya?

Indikasi keikhlasan itu kadang amat sederhana kok. Kalo antum bisa rela bahkan bahagia si Ukhti ”A” yang antum cintai karena Allah itu dinikahi orang lain – yang memang pantas untuknya- berarti antum bener-bener ikhlas. Tapi kalo antum kecewa dan ngotot ingin memilikinya dengan mengungkit-ungkit semua kebaikan yang telah antum berikan padanya, maka pada saat itu saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa antum telah tertipu. Antum baru saja menukar akherat antum dengan dunia yang belum tentu antum dapat (soalnya bisa aja si Ukhti tetep menolak, karena antum bukan tipenya, he..he..).

Jadi ikhwah fillah, cintailah seluruh saudara-saudarimu karena Allah. Berikan yang terbaik yang bisa antum berikan pada mereka, tanpa mengharap balasan dari mereka sedikitpun. Sedikitpun tidak! Bahkan tidak walau sekedar ucapan terima kasih atau senyuman. Berharaplah bahwa Allah lah yang akan membalas semua kebaikan itu dengan sempurna. Berharaplah pada senyuman Allah saja. Hauslah akan cinta-Nya saja.

Seperti Wahsyi yang rela pergi dari hadapan Rasulullah yang amat ia cintai, karena ia tahu kehadirannya di dekat Rasulullah hanya akan menambah perih luka hati Rasulullah atas pembunuhan Hamzah.

Entry filed under: Tulisan Lama. Tags: .

Renungan bujang lapuk Kepada para perindu Surga

11 Comments Add your own

  • 1. ìndah  |  September 21, 2008 at 3:00 pm

    Hamdan, ana lega stlh bc artìkeLx.. memang syaìtan kerja-x menggodà ìman ìnsan darì haL2 kcìL yg terkesan sèpele – dosa bèsar, na’udzubìlLàahi mìn dzäLìk,.
    Smg qt smua trmsk hambå 4wI yg hanìèf, terjaga hatìx, sìkap + lìsanx . . Allähummå ämìen.

    Reply
  • 2. wulida  |  November 16, 2008 at 6:45 pm

    be-te-we, moga gak kelamaan buat kasih komen,…

    uhm, seandainya semua orang sudah memiliki tingkat keikhlasan yg antm tuliskan diatas, agaknya pelangi hanya akan memiliki satu warna saja, alias tidak akan ada lagi kejahatan & kemaksiatan merajalela di seantero bumi. Nggak asik donk?

    Ngga begitu jg sih..

    Akan tetapi, kenapa tidak kita mencoba utk mengikhlaskan sesuatu yg memang bukan hak kita? Itulah seharusnya yg hendaknya dipertanyakan.

    Wheew, inspiring article. Saya jadi termotivasi kembali setelah membaca artikel ini.

    Reply
  • 3. m ihsan fauzi  |  January 22, 2009 at 5:18 pm

    akhie, ana mencintai antumkarena Allah….

    Reply
    • 4. Yudhy Herlambang  |  January 23, 2009 at 1:51 pm

      Sama Mas, kuadrat malah…

      Reply
  • 5. hamba allah  |  May 24, 2009 at 9:39 pm

    wih.,..,., syukron banget emang sih tapi bagaiman kalau kita dah berusaha untuk melupakan tapi tidak bisa ?

    dosa gak ya
    atau jgn2 kita syirik

    salam kenal
    jazzakillah

    Reply
  • 6. Sulthan MaLiK  |  July 2, 2009 at 3:04 pm

    Assalamu’alaykum

    jakallah akhiy, bagus nich artikel…

    wassalam

    Reply
  • 7. BanyakDosa  |  September 5, 2009 at 5:28 am

    Apakah seorang akhwat bisa menemani di alam kubur,alam mahsyar dll ???????

    Reply
    • 8. Yudhy Herlambang  |  November 12, 2009 at 2:13 pm

      Hadits ini mungkin bisa menjawab:

      Dari Ath Thabrany dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha
      “………………………….
      Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli? ”

      Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan yang tampak daripada apa yang tidak tampak. ”

      Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka? ”

      Beliau menjawab, ” Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasaannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya. ”

      Saya berkata, ” Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah nikah dengan dua, tiga atau empat laki-laki lalu dia meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?

      Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaqnya paling bagus, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaqnya tatkal hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya.’ Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat. “

      Reply
  • 9. Enambelas September  |  January 11, 2010 at 9:33 pm

    (T_T) aku binggung. . .

    Reply
    • 10. Yudhy Herlambang  |  January 12, 2010 at 8:35 am

      Bingung kenapa Mas?

      Reply
  • […] ambil dari https://mencarimakna.wordpress.com/2008/04/22/bagaimana-ikhwan-dan-akhwat-saling-mencinta/ buat teman2 yg mau share tafadhol mudah2an catatan ini da amanfaat nya bt kita renungkan AMIEN,, […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chatting

Download

Arsip

Kalender Posting

April 2008
M T W T F S S
    Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 23,850 hits

%d bloggers like this: