Renungan bujang lapuk

April 22, 2008 at 12:51 pm 4 comments

Sebagian ikhwan yang saya kenal rupanya menyimpan sedikit perasaan enggan dengan metode menikah by biodata. Sebagian yang lain bahkan dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi telah menempuh jalan alternatif untuk memperoleh pendamping hidupnya: merebut secara heroik sang pujaan hati dari tangan sang wali secara mandiri!

Tulisan ini bukan untuk mencela mereka, karena sesungguhnya bagi saya metode itu kadang nggak jelek-jelek amat. Syari’at bahkan tidak melarang. Sebagian ekstrimis Islam bahkan justru menuduh menikah lewat biodatalah yang bermasalah. Menurut mereka itu adalah bid’ah yang harus diperangi. Nah kalo ini sih kelewatan! Menikah lewat biodata tentu bukan bid’ah karena setiap pelakunya sadar betul ini bukan termasuk ritual ibadah. Demikian juga ia tidak dapat dipaksakan ke setiap orang karena akan mencederai HAM
(Hak Asasi Menikah, he..he..he..). Tulisan ini hanya ingin bercerita mengapa ditengah jaman keterbukaan ini masih saja ada ikhwan yang taat, pasrah bahkan berambisi menikah dengan cara kuno itu: menikah by biodata.

Supaya tidak terkesan men-generalisir dan sok tahu, kita nisbatkan saja semua perenungan ini pada diri saya sendiri – sang bujang lapuk abad 21. Dengan begitu tidak ada yang berhak tersinggung ataupun merasa dilecehkan. Saya toh berhak punya pendapat pribadi asal tidak saya paksakan ke orang lain…

Dulu, duluuu… sekali, saya termasuk yang tidak setuju dengan metode nikah gaya kuno itu. Kesannya seperti membeli kucing dalam karung. Mohon maaf, saya tidak bermaksud menyamakan akhwat dengan kucing, juga tidak berusaha menganalogikan pernikahan dengan jual beli, dan yang pasti saya tidak menuduh para akhwat jalan-jalan berkerubut karung, tapi dengan kepicikan dan kurangnya perbendaharaan kata mutiara yang saya miliki, hanya kalimat itu yang bisa terpikirkan pada waktu dulu banget itu.

Semuanya menjadi berbeda sekarang. Saat saya menyadari beberapa hal penting dalam diri saya. Hal-hal yang melekat spesifik pada saya bahkan sejak pertama kali saya mengenal kata ‘cinta’. Ringkasnya, saya tidak pernah sukses dalam cinta! Tentu bukan karena wajah saya tidak tampan. Beberapa orang terdekat – terutama ibu saya – selalu mengelu-elukan ketampanan saya. Hei, antum tidak perlu muntah berlebihan begitu, semua ini jujur adanya. Soalnya bagi ibu saya, menjelekkan wajah saya tentu sama saja dengan menjelekkan diri sendiri yang telah mewariskan wajah itu ke saya! Harap maklum.

Di sisi lain, saya juga bukan cowok yang bodoh, terutama jika antum berkonsentrasi pada track record akademik saya di SMP dan SMA. Ranking paling jelek yang pernah saya dapat adalah ranking dua! Tidak terlalu bodoh kan?! Lulus kuliahpun tepat lima tahun dengan IPK yang dengan susah payah tembus juga di atas angka tiga, cukup bagus untuk standar para aktivis pergerakan Teknik UNS. Jadi sungguh, bukan karena dua hal itu saya gagal dalam cinta. Semuanya lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis.

Sebuah penyakit. Saya menyebutnya gejala: INCIDIOT! Tentu saja nama ini karangan saya sendiri. Kependekan dari Incidentally Idiotism. Atau dengan bahasa yang lebih lugas bisa antum sebut dengan keguoblokan insidental!

Sudah bisa menerka apa yang saya maksud? Tepat sekali, saya akan berubah menjadi seorang idiot murni di depan orang-orang yang saya taksir. Ya, saya memang telah naksir banyak akhwat maupun cewek biasa sejak saya mengenal cinta dan tak satupun yang membuahkan kisah romantis yang indah berkat gejala incidiot yang saya miliki. Efek fisiologis gejala ini memang bervariasi, mulai dari kegagapan berkelanjutan, keringat dingin yang membanjir, atau kecelakan-kecelakan tragis akibat terlampau hiperaktif dalam mencari perhatian.

Waktu SD contohnya, saya pernah jatuh berkalang tanah, babak bundhas, berdarah-darah! Gara-gara pamer kecepatan lari di depan cinta monyet pertama saya dan secara naas tersandung batu dalam kecepatan yang sangat tinggi. Sakitnya lebih karena nahan nangis menjaga harga diri. Di kesempatan yang lain – masih di SD yang sama, dengan cinta monyet yang sama – saya berhasil menggagalkan hasil ulangan saya gara-gara satusatunya pensil yang saya punya justru saya pinjamkan ke si cinta monyet yang menerimanya dengan senang hati sambil tersenyum aneh di waktu yang sama (mungkin dikiranya saya sudah tidak waras, tapi toh ia tak peduli selama ia bisa menyelesaikan ulangannya. Dengan pensil saya tentunya!).

Selanjutnya di SMP masih dengan cinta monyet yang sama, saya berhasil mempermalukan diri saya sendiri sekaligus si cinta monyet dalam sebuah drama ‘penembakan’ yang berakhir tragis di kelasnya waktu jam istirahat. Di depan seluruh warga sekolah saya telah ditolak dengan tegas! Bahkan setelah saya bergaya seperti Romeo yang berlutut memohon di depan Julietnya. Bodohnya saya yang telah terlalu percaya pada buku-buku fiktif pemanjang angan-angan di masa itu.

Tapi itu bukan akhir penderitaan cinta saya. Di SMP yang sama, entah berkat aksi sok romantis waktu itu, track record akademik yang gemilang atau wajah yang tampan atau mungkin juga gabungan ketiganya (antum muntah lagi ya?!) saya telah ditaksir oleh tiga orang cewek dalam rentang waktu yang hampir bersamaan. Bukti-bukti akurat berupa kerlingan nakal, semburat merah di pipi, salam yang dititipkan dan gosip yang tersebar seantero sekolah cukup menegaskan fakta tersebut. Tapi itulah, INCIDIOT telah menghancurkan bunga-bunga cinta itu bahkan sebelum ia berkembang.

Karena penyakit itu, saya justru menjadi acuh pada mereka di saat hati telah menaruh simpati. Saat ingin membalas senyum, justru membuang muka yang terjadi. Maka merekapun lelah dan mengalihkan panah cinta monyet mereka ke lain hati hanya dalam beberapa minggu saja. Dan seperti kata pepatah: cinta monyet akan hilang hingga tinggal monyetnya saja, itulah saya.

INCIDIOT telah mencapai stadium yang sangat ganas hingga berhasil menghapus semua semburat merah jambu yang hendak tertoreh dalam hidup saya sampai SMA, bahkan hingga kini. Ditambah lagi muncul penyakit kedua. IMPASSION!

Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan impotensi! Saya adalah laki-laki sekaligus ikhwan yang sehat secara biologis. Impassion juga nama karangan saya sendiri, secara filisofis ia adalah gabungan dari dua kata: ‘im’ yang artinya ‘tidak’ dan passion yang artinya ‘nafsu’? Eh, yah, saya memang tidak begitu yakin istilah ini akan bisa menjelaskan maksud saya. Mungkin frase ‘mati rasa’ lebih mudah dicerna oleh antum. Kepada siapakah saya mati rasa atau impassion itu tadi? Kepada semua sahabat perempuan saya, itu jawabnya.

Ya, bersekolah di SMA umum dimana murid putra dan putri bebas berinteraksi tentu menyebabkan saya memiliki beberapa teman perempuan, diantaranya bahkan sangat dekat. Sebagian besar dari mereka justru jauh lebih cantik, lebih bersinar dan lebih solihah dari cinta monyet manapun yang pernah saya taksir. Tapi karena impassion itu tadi maka saya nggak mungkin naksir mereka, begitu juga sebaliknya. Tentu kami saling memperhatikan, kadang belajar bareng, bahkan liqo’ bareng (karena itulah murabbi pertama saya adalah murabbiyah, ini agak kompleks untuk diceritakan), tapi membayangkan untuk merajut cinta seperti kebanyakan muda-mudi puber waktu itu, nggak lah yauw!!! Di waktu dewasa nanti saya menyadari hubungan seperti itu cukup berbahaya juga, tapi alhamdulillah kami mampu melewatinya dengan selamat.

Beberapa dari teman perempuan dekat itu kini telah menikah dan mengundang saya dalam walimah mereka. Diantaranya bahkan ada yang meminta saya sebagai salah satu panitia. Dan saya bahagia dalam setiap pernikahan itu. Bukti bahwa saya tidak mencintai mereka sebagai lelaki, tetapi tulus sebagai seorang sahabat.

Maka lengkap sudah seluruh syarat dan faktor penyebab kegagalan cinta dalam pribadi saya: INCIDIOT menghalangi para bidadari mencintai saya, sedang IMPASSION menghalangi saya mencintai mereka. Hancur minah! Di bangku kuliah, kepahaman yang mulai lengkap tentang batasan pergaulan ikhwanakhwat bersama kedua penyakit tadi membentuk kepribadian yang aneh pada diri saya.

Kepribadian yang menyeramkan bagi para akhwat. Dingin dan beku, demikianlah secara umum saya bersikap pada para akhwat yang berinteraksi dengan saya secara pribadi. Ini menjadikan saya tokoh yang tidak menarik untuk diajak ngobrol ngalur ngidul atau SMS lucu-lucu. Buktinya, saya adalah satu-satunya personil dalam dua tim nasyid bentukan Akh Dimas Bayu Susanto itu yang tidak pernah menerima SMS menggoda dari para akhwat. Padahal personil paling berjenggot dan paling sangar dalam grup ini minimal sudah ditaksir 3 akhwat berkat performancenya di tim nasyid kami. Alhamdulillah beliau-beliau ini beriman dahsyat hingga tak pernah terjebak dalam kasus merah jambu. Kalau hampir, mungkin pernah.

Memang ada, beberapa akhwat khusus yang kemudian mampu memecah kebekuan ini dan nekat beramah tamah meski saya sembur dengan hawa dingin. Tapi ini sangat sedikit dan pada akhirnya mereka akan menjadi sahabat. Sedangkan saya tidak bisa mencintai sahabat, tidak sebagai laki-laki.

Saat-saat itu – di kampus – hal-hal ini tidak menjadi masalah buat saya, toh saya mendapat semua cinta yang saya butuhkan dari liqo’ dahsyat saya, gank ikhwan teknik 2002, tim nasyid kebanggaan UNS dan seluruh ikhwah teknik yang tulus itu.

Tapi kini, saat saya mulai sadar bahwa saya telah menjadi seorang bujang lapuk. Saat saya jauh dari semua yang mencintai saya. Saat malam-malam begitu dingin dan bernyamuk, saya sadar saya tak bisa sendiri lagi. Juga sadar bahwa saya tak akan mampu seheroik ikhwan-ikhwan di awal tulisan saya ini. Maka menikah by biodata barangkali adalah sebuah berkah luar biasa yang saya syukuri dari kehidupan berjama’ah ini.

Karena melalui metode itu, calon istri saya akan mampu melihat saya dengan lebih obyektif lewat track record tertulis dalam CV – itu tanpa incidiot saya. Menyimak penjelasan tentang diri saya yang tertutur tenang dari mulut saya di balik hijab kala ta’aruf. Dan puncaknya, terpana saat menatap malu wajah tampan nan teduh saya di kala nadhar (saya lihat antum muntah lagi…he..he..he..). Saya juga tak perlu impassion, karena besar kemungkinan saya belum pernah mengenalnya sebelumnya.

Kini, saya telah berubah dari pasrah dan taat, menjadi berambisi untuk menikah by biodata.

Entry filed under: Tulisan Lama. Tags: .

Ujian cinta Bagaimana Ikhwan dan Akhwat saling mencinta

4 Comments Add your own

  • 1. Bogie Satrio  |  June 11, 2008 at 6:33 am

    Yudiiiiiiiiiiiiii, banyak ngomong loe ! Kebanyakan mikir en teori ! Prakteknya Kapaaann ???

    Reply
    • 2. Yudhy Herlambang  |  June 12, 2008 at 1:45 pm

      Wadhuh..wadhuh… afwan ustadz, ini kan juga dalam rangka memotivasi diri ke arah sana, cuman realitanya jalan ke sana kayaknya masih sangat panjang he..he.he..

      Reply
  • 3. donzjuan  |  July 8, 2008 at 3:09 pm

    Semuanya tergantung selera Bro dan karakter masing2 orang

    Reply
  • 4. soniazone  |  July 12, 2008 at 3:58 am

    dibaca akhwat lho akh…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chatting

Download

Arsip

Kalender Posting

April 2008
M T W T F S S
    Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 23,850 hits

%d bloggers like this: