Bukan siapa yang bicara…

September 11, 2008 at 7:25 am 1 comment

Di antara manusia – bisa jadi kita – ada golongan yang susah untuk dinasehati. Ketika seseorang datang padanya untuk menyampaikan tausiyah, alih-alih mendengar dan menyimak dengan seksama, golongan ini justru sibuk mencari-cari kelemahan si penyampai nasehat.

Dalam benak oknum ini – yang sekali lagi bisa jadi di antaranya adalah kita – muncul kata-kata seperti ini,

“ Siapa sih loh? Udah ngerasa suci? Lebih suci dari gue gitu? Sok ngasih tahu segala!”

atau barangkali seperti ini,

“ Lha kamu sendiri kan lebih parah lagi, kamu kan suka begini, suka begitu, kamu tuh gak pantes ngasih nasehat, urusin aja dirimu sendiri dulu, ngapain aku ikutin kata orang munafik macam kamu.”

Atau yang lebih parah lagi mungkin seperti ini,

“ Udah ngaji berapa lama sih? Aku tuh levelnya lebih tinggi dari kamu, baru juga ngerti agama udah belagu, emangnya apa sih amalmu selama ini? Amalku kan lebih banyak, karir dakwahku kan lebih lama, udah deh gak usah rese!”

Ya, bisa jadi kata-kata ekstrim di atas tidak benar-benar terucap dari bibir mereka tetapi sesak memenuhi benak dan hati mereka lalu menyumbat telinga dan mengaburkan pandangan dari fakta kebenaran yang sedang terpapar di hadapan.

Sedihnya, ‘mereka’ yang saya sebut-sebut di atas kadang-kadang juga adalah ‘kita’ atau minimal saya deh supaya kesannya nggak nuduh.

Jika ini sering terjadi pada kita, maka kita perlu mengingat kembali sebuah kisah yang tercantum dalam Kitab Shahih Bukhari tentang pertemuan Abu Hurairah dengan setan berikut ini.

Abu Hurairah pernah ditugaskan Rasulullah saw untuk menjaga gudang zakat kaum muslimin dan memergoki seorang pencuri. Dua kali pencuri ini tertangkap oleh beliau tapi selalu mengiba minta dilepaskan karena alasan miskin dan punya banyak tanggungan keluarga. Tapi Rasulullah memberi tahu Abu Hurairah bahwa alasan itu hanyalah dusta, sehingga pada malam ke-tiga Abu Hurairah berniat untuk benar-benar menangkap pencuri tersebut dan menyerahkannya pada Rasulullah saw untuk dihukum.

Namun ketika malam ke-tiga tiba dan pencuri itu kembali tertangkap, ia minta dibebaskan kembali dan sebagai gantinya ia akan mengajarkan beberapa kalimat yang menurut pengakuannya akan menjadikan Abu Hurairah mendapat keuntungan dari Allah swt. Pencuri ini berkata, “ Bacalah ayat kursyi sebelum tidur maka Allah akan menunjuk penjaga yang akan menjaga kamu hingga esok hari dan tidak akan ada setan yang bisa mendekatimu selama itu.”

Ketika apa yang dikatakan pencuri tadi dilaporkan kepada Rasulullah saw keesokan harinya, Rasulullah bersabda, “ Dia sungguh telah mengatakan kebenaran meskipun dia adalah pembohong besar. Tahukah kamu kepada siapa kamu berbicara dalam tiga malam ini?” Abu Hurairah menjawab, “ Tidak.” Rasulullah melanjutkan, “ Ia adalah setan.”

Nah saudara-saudara, bahkan setan pun bisa berkata benar lho. Atau dengan kata lain, kata-kata yang benar akan tetap benar meskipun yang menyampaikannya seorang pendusta.

Jadi sebenarnya nggak penting apakah penyampai pesan itu seorang munafik, kafir, pendosa, bodoh atau gila, kalau yang ia sampaikan sesuai dengan kebenaran Al Qur’an dan Sunnah maka apapun yang ia sampaikan harus kita terima dan laksanakan. Dengan begitu kita tidak lagi punya alasan untuk menolak kebenaran karena ke-tidak sempurnaan penyampainya. Lagian siapa sih yang sempurna?

Benar bahwa Allah murka kepada orang-orang yang menyampaikan kebenaran tapi mereka sendiri tidak mengerjakannya, tapi itu urusan si penyampai dengan Allah swt, bukan urusan kita yang sedang dinasehati. Soalnya dimurkainya si penyampai nasehat yang munafik misalnya, tidak akan menghapus kesalahan yang nyata-nyata kita lakukan.

Justru penolakan kita akan nasehat itu bisa menambah murka Allah ke kita.

Konteksnya dengan saat ini, di bulan Ramadhan ini bisa jadi akan bermunculan ustadz-ustadz dadakan. Pengisi-pengisi kultum amatiran. Yang entah benar-benar tahu agama atau tidak, yang entah benar-benar mengamalkan apa yang mereka katakan atau tidak, tapi jika apa yang mereka sampaikan memang bersesuaian dengan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya maka wajib bagi kita untuk mengamalkannya tanpa kecuali.

Kebalikannya, jika ada seseorang yang track recordnya selalu bersih, terpandang, punya banyak pengikut, pada suatu saat berkata yang tidak sejalan dengan Al Qur’an dan Sunnah, maka pada saat itu apa yang ia katakan harus kita tinggalkan. Bagaimanapun manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mampu mentaati perintah-Nya dalam segala kondisi.

Semoga Allah menerima puasa kita dan menjadikannya jalan bagi tercapainya ketaqwaan diri.

Entry filed under: Sekarang. Tags: , , , .

Surga dan Neraka Tenggelam dalam keringat

1 Comment Add your own

  • 1. KRIYA MANDIRI  |  October 13, 2008 at 5:38 am

    Assalamu’alaikum…
    Gimana kabarnya akh…salam ukhuwah from penggurus KRIYA MANDIRI SOLO

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chatting

Download

Arsip

Kalender Posting

September 2008
M T W T F S S
« Jul   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 23,850 hits

%d bloggers like this: