Sudahkah kita berilmu?

December 2, 2008 at 2:00 am 3 comments

Malam yang lalu, iseng saya ketikkan nama lengkap saya di kotak pencarian Google. Muncul 150 hasil yang memang tidak semuanya relevan. Tapi yang membuat saya kaget, ada satu link yang tidak saya duga akan memuat nama saya di sana. Penasaran, saya klik link tersebut dan sampailah saya di Blog Rohis HMA (Himpunan Mahasiswa Arsitektur) UNS. Subhanallah… Terharu saya melihat sekelumit tulisan setengah jadi yang pernah saya buat terpampang di sana.

Sebagai apresiasi terhadap para pengurus Rohis HMA itulah, tulisan ini saya hadirkan kembali dalam kondisi yang lebih utuh.

Sudahkah kita berilmu?

Mari bicara tentang ilmu. Ada dua hadits tentang ini yang menarik untuk didiskusikan.  Hadits pertama bunyinya:

” Mencari ilmu (thalabul ilmi) wajib hukumnya bagi setiap muslim.”

Hadits kedua berbicara tentang amal jariyah, yaitu amal yang tidak terputus pahalanya walau seorang muslim telah meninggal dunia, di antara tiga amal itu rasulullah juga menyebut, ” … ilmu yang bermanfaat, …” Ini redaksi lengkapnya:

Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda: “Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad).

Dalam hadits yang pertama muncul kekhasan Islam dalam memerintahkan sesuatu, yaitu menekankan pada proses dan bukan semata-mata hasil. Hadits itu tidak menuntut kita jadi pinter kan? Hadits itu menuntut kita agar berusaha untuk pinter dengan segala daya dan upaya. Tapi kalau ternyata kenyataannya dalam ilmu tertentu itu kita nggak bisa pinter-pinter juga, kewajiban kita toh sudah tertunaikan.

Soalnya tidak bisa dipungkiri bahwa tiap orang punya kelebihan dan kelemahan yang berbeda-beda dalam memahami suatu ilmu. Jadi kalo antum, misalnya udah kuliah di Sipil mati-matian tapi nggak mudeng-mudeng juga karena keterbatasan yang ada pada antum, maka tidak mengapa.

He..he.. ketahuan kalo saya lagi nyari legitimasi ya…

Tapi itu kalo kita cuma pengin lepas dari tuntutan kewajiban saja, coba lihat hadits kedua! Hadits ini menunjukkan tingkatan yang lebih tinggi dan tuntutan yang lebih tinggi pula bagi seorang muslim. Dalam hadits ini, kalo pengin dapet pahala yang tidak terputus sampe kiamat ada dua syarat (yang hubungannya sama ilmu):

1. Punya ilmu
Tuh, tidak sekedar mencari, tapi harus dapet ilmunya. Artinya menguasai ilmu itu.

2. Ilmu itu bermanfaat
Selaras dengan hadits lain yang bunyinya, ” Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.”

Nah, coba refleksikan ke diri kita. Saat ini barangkali kita sudah cukup bersemangat mencari ilmu. Kuliah, baca buku, surfing internet, kajian, dsb. Bisa jadi kita udah lepas dari tuntutan hadits pertama (bisa jadi lho, soalnya kadang males juga kan berangkat kajian, kuliah and baca buku?). Tapi sudahkah kita mendekati keinginan hadits kedua? Untuk mengetahuinya kita perlu selidiki dulu dua hal di atas.

Pertama, dari mana kita tahu kita telah berilmu?

Di sekolah ada metode yang sering digunakan untuk menilai seberapa berilmunya kita. Betul, dengan ujian . Ujian memberi kita gambaran seberapa besar kemampuan kita dalam bidang yang diujikan itu, kecuali kalo kita nyontek atau curang. Sayangnya memang tidak semua ilmu bisa dideteksi kadarnya dari metode ini, mengingat begitu bervariasinya ilmu yang musti kita pelajari. Maka sebenernya ada metode yang lebih mudah, lebih murah dan lebih akurat menurut saya untuk mendeteksi kadar ilmu kita.

(dulu tulisan ini terpotong sampai di sini… berikut lanjutannya setelah 1,5 tahun berlalu)

Metode yang saya maksud sangat sederhana yaitu dengan menyampaikan “ilmu” tersebut ke orang lain.

Sesederhana itu? Ya, memang sesederhana itu.

Kalo antum tidak percaya, coba saja dengan pembuktian terbalik. Misalnya, bisakah antum menyampaikan kajian kepada ibu-ibu majelis taklim di sekitar rumah antum tanpa mempersiapkan materi terlebih dahulu?

Jika sudah mempersiapkan materi, lancarkah penyampaian antum jika antum tidak memahami benar apa yang antum sampaikan?

Lebih jauh lagi, dapatkah antum menjawab pertanyaan ibu-ibu itu terkait materi yang antum sampaikan jika antum tidak mendalami materi tersebut dengan serius hingga hapal di luar kepala?

Saya yakin jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah “Tidak”.

Ini berarti ketika kita mampu menjelaskan sesuatu hal (ilmu) dengan gamblang ke pihak lain, lebih-lebih secara interaktif, besar kemungkinan kita telah menguasai ilmu tersebut. So, kalau pengin mengukur kadar ilmu yang antum miliki, banyak-banyaklah melakukan presentasi dan diskusi.

Presentasi dan diskusi tidak selalu harus dilakukan secara oral (lisan) lho, bisa juga dengan  membuat tulisan baik berupa makalah, artikel ringan atau diskusi di mailing list.

Nah, kalo sudah tahu apa saja ilmu yang kita kuasai maka kita perlu beranjak ke tahap berikutnya,  yaitu mencari tahu seberapa bermanfaatnya ilmu kita tersebut bagi orang banyak.

Seberapa bermanfaatkah ilmu kita ?

Bicara manfaat, berarti bicara masalah amal nyata. Soalnya ilmu teoritis tak akan membuahkan manfaat sebelum terwujud sebagai amal. Jadi parameter evaluasinya lebih gampang nih, jika antum telah berhasil mengamalkan suatu ilmu yang antum pelajari maka insya Allah ilmu tersebut telah bermanfaat, kalau tidak untuk orang lain, minimal untuk diri antum sendiri dulu.

Sebenarnya ada korelasi yang erat antara menyampaikan ilmu dan menjadikan ilmu itu manfaat. Dalam beberapa kondisi, ada ilmu-ilmu tertentu yang sulit kita kerjakan sendiri namun mudah bagi orang lain, sehingga manfaat ilmu tersebut baru muncul setelah kita sampaikan ke orang lain tersebut.

Contohnya seorang Ustadz yang secara teori hapal betul ilmu tentang haji, tapi nggak ada biaya. Beliau sendiri tidak mampu mengamalkan ilmu itu, tapi dengan mengajarkannya kepada majelis taklimnya yang berlatar belakang ekonomi lebih baik, maka ilmu itu dapat dipraktekkan dan menjadi manfaat.

Bisa juga sebuah ilmu berlipat ganda manfaatnya karena disampaikan ke semakin banyak orang. Misalnya ilmu tentang peduli lingkungan, seperti menanam pohon, memisahkan sampah organik dan anorganik, dll. Kalau cuma dilakukan segelintir orang manfaatnya belum terasa. Tapi saat seluruh dunia berpartisipasi, bumi menjadi jauh lebih baik.

Jadi, jangan menunda diri untuk menyampaikan ilmu yang telah antum pelajari. Terus sebarkan, terus amalkan, sambil terus belajar. Sebagaimana firman Allah dan sabda Rasulullah berikut:

“… Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”

(Qur’an Surat Ali Imran:79)

” Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.”

(HR. Bukhari)

Entry filed under: Sekarang. Tags: , , .

Kematianku Kita da’i, bukan hakim

3 Comments Add your own

  • 1. Doni Dwi Cahyadi  |  December 14, 2008 at 3:05 pm

    yud, kok gak ada buku tamunya sih. aku mau silaturohim nih…

    Reply
    • 2. Yudhy Herlambang  |  December 15, 2008 at 1:47 pm

      Silaturahim ya monggo aja, hubungane apa sama Buku tamu?🙂

      Reply
  • 3. wulida rochman bin suyono  |  February 7, 2009 at 10:56 am

    Betul sekali mas. saya juga pernah kepikiran, kenapa harus ada ujian akhir ya? apakah dia bisa dijadikan parameter kemudhengan seseorang akan suatu ilmu?

    Jawabannya adalah : bisa, tapi tidak mutlak, karena bisa jadi seseroang memiliki kapabilitas dan kapasitas akan sesuatu hal/materi, akan tetapi dia akan menemui halangan/rintangan pada suatu saat : anggaplah pas ujian. Bisa jadi orang tersebut sedang dalam keadaan sakit atau malah dihadapkan kepada 2 pilihan yakni ikut ujian atau melakkukan hal lain yang nilainya jauh lebih mulia daripada ujian tersebut. Atau mungkin nilainya terlalu bagus karena dia kreatif membuat lembar contekan, wah..ga boleh suudzon deh.
    Di kampus saya, pernah ada kejadian teman sakit ketika praktikum modhul terakhir, tetapi karena sudah ada peraturan di lab bahwa apabila ia tidak mengikuti praktikum 1 modul( tanpa alasan apapun), ya..berkewajiban untuk mengulang tahun depan untuk semua modul.
    Menurut hemat saya, meski sebenarnya ujian itu dilaksanakan setiap hari ( ujian/cobaan memang setiap hari bukan? ),akan tetapi ujian tetap penting, misal : kenapa harus ada sertifikasi? karena ada yang namanya legalitas bahwa seseorang memiliki kemampuan tertentu ( misal : SIM, TOEFL,sertifikasi CCNA/B,dll ). Masak iya perusahaan harus melihat satu persatu dari ribuan kandidat pegawainya?
    Itu kalo di lingkup pekerjaan. Jika di lingkup sekolah atau kuliah, saya lebih condong kepada siswa tidak terlalu dibelenggu oleh yang namanya ujian, tetapi lebih kepada progress report dia selama berada di sekolah. Progress report itu bisa jadi merupakan kumpulan dari berbagai parameter yang digunakan untuk menilai kelulusan siswa, jadi : tidak hanya melalui ujian bukan?
    CMIIW

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chatting

Download

Arsip

Kalender Posting

December 2008
M T W T F S S
« Nov   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 23,850 hits

%d bloggers like this: