Kita da’i, bukan hakim

February 7, 2009 at 6:18 pm 5 comments

Ini perkara berat.

Coba jawab pertanyaan saya yang satu ini. Dalam seluruh periode kehidupan yang sudah antum jalani, pernahkah antum berbuat dosa? Kalau antum jawab belum, maka kemungkinannya hanya tiga.

Kemungkinan pertama: antum manusia yang belum dewasa/baligh/mukallaf. Bagi antum tentu seluruh hukum syari’at belum berlaku, jadi mana mungkin antum punya dosa.

Kemungkinan kedua: antum bukan manusia, tapi malaikat. Karena malaikat selalu patuh pada perintah-Nya dan tak dikaruniai hawa nafsu.

Tetapi jika antum sudah baligh, kemudian membaca tulisan ini dari browsing di internet atau dari buletin yang hasil mungut di jalan, dan jawaban antum tetap “belum!” maka kemungkinan ketiga adalah: antum bohong! (soalnya sepengetahuan saya, malaikat nggak browsing lewat internet:)). Ironisnya, bohong itu sendiri juga dosa.

Mengapa saya begitu yakin dengan pernyataan saya di atas? Itu sudah jelas, dalilnya gamblang,

“Setiap anak Adam (manusia) mempunyai salah (dosa), dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”

[HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Hanya para Nabi dan rasul yang ma’shum (dijaga oleh Allah dari dosa) sehingga langsung diingatkan begitu melakukan dosa/kesalahan, selain mereka tidak.

Termasuk kita. Meski sudah bergelar da’i, aktivis atau ustadz, bukan berarti kita lepas dari godaan setan dan hawa nafsu. Iman ada naik dan ada turun.

Setiap kita lengah dan jauh dari-Nya maka saat itulah setan dan hawa nafsu memegang kendali menggiring kita pada kemaksiatan. Setan punya cara-cara khusus untuk menggoda orang-orang yang pemahaman agamanya lebih tinggi. Cukuplah itu kita pahami dan tidak saya panjang lebarkan di sini. Saya punya penekanan lain untuk artikel ini.

Di sisi lain, setiap dosa (baik besar maupun kecil) dapat terhapus dengan taubat.

“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari sebelah barat, maka Allah menerima taubatnya.”

[HR. Muslim]

“Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang telah lalu.”

(Qs. al-Anfâl [8]:38 )

Di sinilah pentingnya sebuah kesadaran.  Kesadaran bahwa semua orang bisa dan mungkin berbuat dosa, sekaligus bisa pula diampuni dosanya dengan bertaubat.

Kesadaran ini akan membawa kita pada penilaian yang lebih adil kepada obyek dakwah. Tidak memandang mereka sebagai pendosa mutlak, atau ahli neraka, sedang kita sebaliknya adalah ahli surga.

Ini juga akan mencegah kita dari sikap menghakimi, kemudian beralih pada sikap membimbing dan mengayomi.

Setiap orang berhak atas kesempatan kedua/second chance untuk kembali ke jalan-Nya sebelum nyawa sampai di tenggorokan.

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan menerima taubat seseorang, sebelum nyawanya sampai di tenggorokan (sebelum ia sekarat).”

[HR. at-Tirmidzi].

Jangan sampai kita yang bukan siapa-siapa ini menutup kesempatan itu karena pandangan picik hitam dan putih belaka.

Tugas da’i bukan tuding sana, tuding sini dengan tuduhan kafir, sesat, ahli neraka, ahli bid’ah dan sebagainya. Tidak!

Jangan merasa kewajiban dakwah antum telah selesai dengan memvonis manusia begini dan begitu.

Tugas dan kewajiban da’i adalah menyeru agar mereka-mereka yang telah jauh melenceng dapat kembali lagi ke jalan yang lurus. Melalui hikmah, perkataan yang baik dan dialog yang nyaman.

Ingatlah bahwa seorang da’i sejatinya bersemboyan, ” nahnu minhum, nahnu lahum, nahnu ma’ahum” yang artinya, ” kami berasal dari kalian, kami ada untuk kalian dan kami bersama kalian”.

Menjauh dari obyek dakwah dengan alasan untuk mensucikan diri,  atau mengecap obyek dakwah sebagai orang kafir, sesat dan ahli neraka, lalu sibuk dengan diri sendiri jelas bertentangan dengan semboyan ini.

Semoga kita semua diberikan keistiqomahan untuk selalu menyerukan kebenaran, dengan cara-cara yang benar pula.

Entry filed under: Sekarang. Tags: , , , , .

Sudahkah kita berilmu? Karena

5 Comments Add your own

  • 1. Sonia Atika  |  February 7, 2009 at 9:26 pm

    sepakat, sepakat, sepakat, . saya copy ah…

    Reply
  • 2. wulida rochman bin suyono bin mad sadali bin Nayalaksana  |  February 28, 2009 at 6:54 pm

    kesimpulan yg bisa diambil dari artikel ini adalah “urgensi tarbiyah”. CMIIW.

    Reply
  • 3. mary  |  March 16, 2009 at 9:03 am

    Muwafik akh

    Reply
  • 4. M.SINUH.A  |  November 18, 2009 at 6:49 am

    sepakat nich ,,,,.. bolehkan tulisan ini saya sampaikan ke orang lain or saya presentasikan sebagai nasehat gituuuu..

    Reply
    • 5. Yudhy  |  November 18, 2009 at 9:10 am

      Boleh… silakan Mas Sinuh, moga menambah amal kebaikan kita di hadapan-Nya.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chatting

Download

Arsip

Kalender Posting

February 2009
M T W T F S S
« Dec   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Blog Stats

  • 23,850 hits

%d bloggers like this: