Namanya Bairuha’

October 30, 2009 at 4:13 pm Leave a comment

Ya, namanya Bairuha’.

Begitu indah dan memikat hati. Sejuk, rimbun, luas, menghadap ke masjid Nabawi di Madinah. Dan yang menjadikannya lebih istimewa lagi adalah karena Rasulullah saw yang mulia pernah memasukinya kemudian meminum airnya yang sejuk.

Bairuha’ adalah nama sebuah kebun kurma yang sangat dicintai Abu Thalhah, pemiliknya.

Tapi tiba-tiba kebun yang begitu prestisius, berlokasi strategis dan bernilai sejarah tinggi itu menjadi tak bernilai sama sekali di mata Abu Thalhah ketika turun ayat berikut:

” Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebaikan, sebelum kalian menafkahkan dari sesuatu yang kalian cintai “

(Q.S. Ali Imran: 92)

Demi mendengar ayat di atas, Abu Thalhah segera bergegas menuju Rasulullah kemudian dengan serta merta menyerahkan Bairuha’ beserta segala isinya kepada Rasulullah untuk dipergunakan sebagaimana apa yang diperintahkan Allah kepadanya.

Rasulullah yang bijak memuji tindakan Abu Thalhah ini tetapi menyarankan agar Bairuha’ dibagi saja kepada kerabat Abu Thalhah yang lebih membutuhkan.

Maka dibagikanlah kebun itu kepada kerabat dan sepupu-sepupu Abu Thalhah yang berjumlah sekitar 70 orang. Masing-masing mendapatkan 200 pohon kurma!

Kisah ini diriwayatkan oleh sahabat Anas ra dan dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam Bab ke-37 Riyadhus Shalihin yang ditulisnya.

***

Mari belajar dari kisah di atas.

Mungkin kita telah sering berinfaq selama ini. Tapi sudahkah ia infaq yang berkualitas? Atau sekedar infaq “seikhlasnya” yang tidak begitu ikhlas?!

Mari ingat kembali apa yang biasa kita masukkan di kotak-kotak infaq masjid kala jum’atan tiba itu.

Adakah ia lembaran uang terbesar dalam dompet kita, atau sebaliknya? Yang paling baru cetakannya, atau yang paling kucel dan hampir robekkah ia?

Atau mungkin kita terlalu sayang dengan yang lembaran-lembaran itu hingga rela bersusah payah merogoh kantong celana yang paling dalam untuk menemukan kepingan uang logam terkecil bekas kerokan untuk diinfaqkan.

Tak bosan-bosan kita ulang semboyan ini dalam kepala kita,  ” tak apa kecil, yang penting kan ikhlas…”

Ikhlas itu harus. Semboyannya juga tidak salah. Yang salah adalah jika mengidentikkan ikhlas dengan yang kecil. Menyamakan ikhlas dengan iseng. Menganggap ikhlas itu tidak harus dengan perjuangan.

Ikhlas adalah perjuangan untuk menjadi murni. Dalam bertindak, dalam berbuat, dalam berkata, dalam beramal, dalam berinfaq.

Ikhlas itu sangat dekat dengan pengorbanan. Dan bukan pengorbanan namanya jika tidak perih dirasa.

Mari kita lihat perbandingan berikut,

Pada suatu sholat jum’at seorang pengusaha dengan aset milyaran dan penghasilan bulanan ratusan juta memasukkan lembaran seribuan ke dalam kotak infaq. Ikhlas lillaahi ta’ala.

Di belakangnya,  seorang pedagang es cingcau dengan omzet duapuluh ribu perhari, dengan 3 anak dan satu istri, memasukkan selembar uang seribuan ke dalam kotak infaq. Ikhlas lillaahi ta’ala.

Sama-sama ikhlas.

Tapi apakah antum yakin nilai amal mereka juga sama di hadapan Allah yang Maha Kaya?! Tentu tidak sama!

Jika sama saja, tentu Umar tidak perlu menyesal karena tidak sanggup menyaingi Abu Bakar yang berinfaq dengan seluruh hartanya, sedangkan ia hanya mampu berinfaq dengan separuh harta.

Jika sahabat rasulullah yang tidak diragukan keikhlasannya seperti Abu Thalhah, Umar, Abu Bakar berlomba kuantitas dalam berinfaq, tidakkah kita yang belum jelas kualitas ikhlasnya ini lebih berhajat untuk berinfaq sebanyak-banyaknya demi meraih ridha-Nya?

Mari kita tengok ayat berikut ini,

” Bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai kemampuanmu.”

(Q.S. At Taghabun: 16)

Mastatho’tum dalam ayat di atas, atau yang dalam bahasa indonesianya artinya ‘semampunya’ sering dimaknai salah menjadi ‘semaunya’ atau ‘seenaknya’.

Dengan dalih ayat di atas, seorang aktivis dakwah yang sedang malas berangkat ngaji, memaklumi dirinya sendiri dan memutuskan tiduran di rumah daripada ngaji. Menurutnya, kan taqwa itu sesuai kemampuan…

Dengan dalih ayat di atas pula seorang kaya hanya berinfaq sekedarnya karena ” takut  tidak ikhlas ” kalau berinfaq lebih. Dalam hatinya, ” Toh taqwa  itu sesuai kemampuan…”

Tentu itu salah. Sesungguhnya bertaqwa sesuai kemampuan berarti kita dituntut beramal sekuat tenaga kita, sebanyak potensi yang dikaruniakan Allah kepada kita. Bukan semau kita.

Mereka yang berkemampuan A namun hanya mau melakukan B menanggung dosa selisih kualitas A dan B (dengan catatan A lebih baik dari B). Demikian menurut Ustadz Anis Matta dalam buku Model Manusia Muslim.

Maka marilah berlatih sejak saat ini untuk memberikan amal terbaik yang kita bisa dan berinfaq dengan yang terbaik dari yang kita cintai.

Jangan lupa, untuk memulai langkah besar perubahan itu dari lingkup terkecil kehidupan kita. Keluarga dan kerabat.

Entry filed under: Sekarang. Tags: , , , , .

Istri saya itu Menutup Pintu Kekerasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chatting

Download

Arsip

Kalender Posting

October 2009
M T W T F S S
« May   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 23,850 hits

%d bloggers like this: