Hidup Ini Penuh Resiko

February 2, 2010 at 5:30 pm 1 comment

Kata orang, bisnis itu penuh dengan resiko.

Demikian juga keseluruhan hidup kita. Sesungguhnya ia penuh dengan resiko pula. Bukankah pada dasarnya hidup ini adalah sebuah bisnis?! Kalau antum lupa, mari kita baca keterangan dari Allah swt berikut ini untuk mengingatkan:

” Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka … “

Q.S. At Taubah: 111

Benar kan?! Hidup adalah bisnis antara kita dengan Dia, Allah swt.

Kita jual, Allah beli.

Mustahil bagi kita menipu-Nya, dan mustahil bagi-Nya menipu kita. Mustahil bagi kita menipu Allah, karena tak mungkin sanggup. Mustahil Allah menipu kita, karena Ia telah mengharamkan kedzaliman bagi diri-Nya.

Fair business!! Bisnis yang adil! Tapi bukan berarti tanpa resiko.

Resiko yang saya maksud adalah apabila kita tidak mampu memenuhi syarat-syarat jual beli itu dengan sempurna.

Ikhlas, Ihsan, Islam, sudahkah kita penuhi seluruhnya?

Seberapa ikhlaskah kita?

Seberapa ihsankah kita?

Seberapa islamkah kita?

Sudahkah mendekati yang diinginkan-Nya?

Saya jadi teringat kata-kata Ibnu At Thailah di kitab Al Hikam yang dicuplik Khairul Azzam dalam film Ketika Cinta Bertasbih:

” Barang siapa yang yakin benar bahwa dirinya benar-benar tawadhu, maka sesungguhnya orang itu adalah benar-benar orang yang sombong “

Jadi, bagaimana posisi kita saat ini? Kalau ngaku-ngaku ikhlas, boleh jadi merupakan tanda kalau nggak ikhlas. Tapi kalau sadar memang belum ikhlas, bagaimana caranya agar kita bisa memenuhi bisnis kita dengan Allah swt?

Modal Hidup

Belum lagi kita bicara soal modal, mari kita cek, ternyata modal kita itu sangat mepet saudara-saudara:

Umur:

Paling Maksimal 100-an tahun, standarnya kan cuma 60-an, belum kalau kena korting, umur 25 juga sudah banyak yang dipanggil-Nya

Waktu:

Cuma 24 jam sehari, itupun sepertiganya kita habiskan untuk tidur (jika kita tidur 8 jam sehari sebagaimana yg dianjurkan para dokter itu)

Tenaga:

Sekuat-kuatnya antum, tidak akan bisa melewati batas fitrah manusia dalam kemampuan beribadah.

Tak akan kuat puasa tanpa buka setiap hari, tak akan kuat tidak menikah selamanya, tak akan kuat sholat sepanjang hari, sepanjang tahun.  Tak akan kuat! Makanya dilarang juga sama Rasulullah yang seperti itu.

Lalu bagaimana cara kita meraih surga dan menghindar neraka? Kalau modalnya tipis, ikhlas belum tentu, ihsan apalagi?!

Inilah yang saya maksud bahwa hidup kita sangat penuh dengan resiko. Resiko masuk neraka ternyata sangat besar (naudzubillahi min dzalika) jika hanya mengandalkan amal-amal kebaikan yang kita lakukan sendiri.

Perlu terobosan-terobosan agar nilai amal yang kita lakukan bisa berlipat ganda, agar jika ada kurangnya, sisa kebaikannya masih banyak. Agar jika suatu ketika tergelincir maksiat, ada kebaikan yang akan menutupinya.

Terobosan itu

Terobosan itu salah satunya adalah MLM!

Lho? Kok MLM?!

Iya MLM, tapi MLM Amal, bukan produk kesehatan atau yang lainnya.  Bahasa keagamaannya adalah: Dakwah.

Dakwah memberikan kesempatan pada kita untuk melipat gandakan amal yang tadinya kecil, menjadi luar biasa besar.

Satu nilai kebaikan yang kita sering lakukan mendadak berkembang biak menjadi ratusan nilai ibadah saat diamalkan orang-orang yang menerima dakwah kita. Secara langsung maupun tidak langsung.

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia berhak memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun dari pahala mereka.”

(HR. Muslim)

Dakwah mampu memperpanjang usia kita melewati batas umur di saat berjumpa ajal.

Asal ilmu yang kita dakwahkan masih diamalkan manusia, kita tetap beroleh pahala dari-Nya meski telah mendekam di liang kubur.

”Jika manusia telah mati, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)

Tapi dakwah memerlukan tenaga yang sangat besar pula untuk menjangkau wilayah yang seluas-luasnya.

Padahal, sekali lagi, tenaga kita terbatas.

Untuk itulah dalam berdakwah kita memerlukan kerjasama dengan orang lain.

Berorganisasi!

Berjama’ah!

Makanya tidak heran dakwah kaum muslimin di masa dahulu begitu ekspansif meliputi 2/3 dunia, karena jama’ah yang dibangun untuk berdakwah demikian solid.

Kesadaran Berjama’ah

Sebagian besar dari masyarakat kita sesungguhnya sudah menyadari betul arti penting dari berjama’ah. Buktinya banyak di antara mereka yang berbondong-bondong mengikuti jama’ah-jama’ah minal muslimin yang kini  semakin marak.

Ada NU, Muhammadiyah, PERSIS, Majelis Tafsir Al Qur’an, Penegak Risalah Tauhid, Tarbiyah, Jama’ah Tabligh, Salafi, Hizbut Tahrir, Majelis Rasulullah, Majelis Dzikir A, B, C dan lain sebagainya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu (mohon maaf bagi pengikut jama’ah yang tidak saya sebut agar tidak tersinggung).

Hanya saja, sedikit dari yang sudah bergabung itu yang masih ingat alasan bergabungnya.

Idealita

Sekali lagi  mari kita runut diskusi kita dari awal  tadi:

Hidup penuh resiko >> Tuntutan tinggi (surga), kemampuan terbatas >> Perlu terobosan >> Dakwah adalah terobosan itu >> Dakwah akan ringan dengan berjama’ah

Yak, begitu kira-kira alur diskusi kita tadi. Dan itulah seharusnya yang mendasari kita sampai pada keputusan bergabung dengan jama’ah tertentu sementara khilafah belum terwujud.

Bukan untuk ‘nebeng’ masuk surga!

Soalnya ‘nebeng’ ke surga itu nggak bisa!

Jangan sekali-kali berpikiran bahwa dengan bergabung bersama jama’ah tertentu, secara otomatis kita akan dipesankan kapling di surga bersama para pendiri dan tokoh jama’ah yang sholeh-sholeh itu. Jangan! Karena faktanya memang tidak begitu.

Nanti di yaumul akhir, kita akan dihisab sendiri-sendiri, sesuai amal perbuatan kita masing-masing.

Saat itu, tidak penting kita ini pengikut jama’ah apa. Yang penting adalah apa yang kita lakukan dalam jama’ah itu.

Amal dakwah apa yang telah kita kerjakan bersama jama’ah.

Itu yang penting.

Realitanya

Masalahnya, cukup banyak (kalau tidak bisa dibilang kebanyakan) orang  yang bergabung dengan jama’ah dakwah niatnya dari awal hanya ingin jadi anggota biasa saja (kata lain dari anggota pasif).

Saat diberikan amanah selalu menghindar. Ada kesempatan berdakwah, tidak mengajukan diri. Diajak syuro, mengaku sibuk. Diajak berkegiatan, izin untuk acara keluarga yang diada-adakan. Menjadi anggota jama’ah tapi tidak benar-benar berjama’ah.

Lalu apa tujuannya bergabung kalau begitu?

Lupa. Tentu mereka hanya lupa. Semoga.

Kitapun juga bisa lupa.

Maka mari saling mengingatkan.

Untuk kebaikan bersama.

Di dunia, dan akhirat.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar

Entry filed under: Sekarang. Tags: , , , , , , , .

Digital Book “Mencari Makna” 7 Bulan Pernikahan

1 Comment Add your own

  • 1. indra wijaya  |  June 11, 2010 at 12:05 am

    Luar biasa dlm renungan bapak

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chatting

Download

Arsip

Kalender Posting

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Blog Stats

  • 23,850 hits

%d bloggers like this: