Belajar Dari Dua Ibarat

July 7, 2010 at 3:20 pm 6 comments

Mengawali tulisan ini saya ingin mengetengahkan dua cerita yang mengandung ibarat.

Cerita pertama,

Suatu ketika ada seorang penguasa yang dinasehati dengan keras oleh salah seorang warganya. Nasehat itu demikian keras hingga bernada tidak sopan. Maka setelah puas sang warga menyampaikan nasehat yang lebih mirip makian itu, sang penguasa berkata,

” Wahai Fulan, katakanlah kepadaku kiranya siapa yang lebih soleh, engkau atau Nabi Musa?”
Warga itu menjawab, ” Tentu saja Nabi Musa, kenapa anda bertanya seperti itu?”
Sang penguasa tidak menjawab, justru bertanya sekali lagi,
” Lalu menurut pendapatmu, kiranya siapakah yang lebih dzalim, aku atau Fir’aun?”
Warga itu menjawab, ” Tentu saja Fir’aun”

Penguasa itu tersenyum lalu berkata, ” Lalu mengapa engkau menasehatiku dengan cara keras seperti itu? Sedangkan Allah swt memerintahkan Nabi Musa untuk menasehati Fir’aun dengan lemah lembut, seperti dalam Surat Thoha ayat 44: Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

Warga itu mendadak terdiam dan menyadari kesalahannya yang tidak memperhatikan adab dalam mengkritik/menaseha ti

Itu cerita pertama, selanjutnya yang kedua

Andaikanlah anda sebagai tokoh utama dari cerita kedua ini.
Anda sedang berjalan-jalan di hutan, lalu tiba-tiba seorang berteriak kepada anda,
” Hei goblok kamu, apa gak punya mata?! Itu ada ular di sebelahmu ..!!”

Nah, sekali lagi, andaikanlah anda sebagai tokoh utama cerita ini. Pertanyaan saya, kira-kira jika pada waktu itu anda sedang memegang tongkat, siapa yang akan anda pukul? Orang yang berteriak dengan kasar? Ataukah ular berbisa yang siap menggigit anda?

Ah, tentu saja kita sepakat bahwa anda akan memukul ularnya, bukan orangnya kan? Itu artinya anda sepakat bahwa daripada menyerang pemberi peringatan, sebaiknya selesaikan substansi masalah yang menjadi alasan peringatan itu diberikan. Tak peduli betapa tidak beradabnya cara pemberi peringatan menyampaikannya.

***

Nah, kita sudah menyimak kedua cerita di atas. Apakah keduanya bertentangan? Nampaknya begitu, namun sesungguhnya tidak.

Ini masalah positioning. Penempatan diri.

Maksud dari kedua cerita di atas adalah, jika sedang berposisi sebagai pengkritik tempatkan diri anda pada cerita pertama, untuk dapat mengkritik dengan adab yang benar.

Sedangkan jika anda pada posisi sebagai yang dikritik, tempatkan diri anda pada cerita kedua, untuk dapat menerima kritikan seperti apapun dengan legowo, lalu berkonsentrasilah pada substansi masalah yang diperingatkan, bukan pada yang memberikan peringatan.

Tema ini saya rasa amat penting kita angkat untuk menjaga keharmonisan kehidupan berjama’ah kita.

Adalah hal lumrah bahwa dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan dakwah yang sudah dan akan kita lakukan nanti akan banyak bermunculan perbedaan pendapat, saling kritik dan sejenisnya.

Jika tanpa penempatan diri yang tepat, salah-salah kritikan yang baik justru akan diabaikan, semata-mata karena buruknya cara penyampaian. Atau yang lebih parah, terjadi perpecahan dan sekat antar pribadi karena pola penyampaian kritik yang kurang beretika. Padahal kita yakin bersama bahwa baik yang dikritik maupun yang mengkritik sama-sama berniat baik. Jadi? Teruslah beramal tanpa takut dikritik. Dan teruslah mengkritik tanpa takut beramal, he..he.. Karena tidak fair juga kan kalau mengkritik terus padahal jarang beramal, he..he..he..

Dan alangkah baiknya jika setiap kita dapat meniru lebah, yang mampu mencium bau sekuntum bunga yang tumbuh di lokasi pembuangan sampah sekalipun dan tidak meniru lalat yang mampu menemukan kotoran sekecil apapun di tengah kebun bunga yang begitu semerbak.

Entry filed under: Sekarang. Tags: , , , , , .

Nasrullah: Pertolongan Allah Kado 1 Tahun Pernikahan

6 Comments Add your own

  • 1. Dimas Bayu Susanto  |  July 11, 2010 at 10:52 am

    I like it

    Reply
    • 2. Yudhy Herlambang  |  July 11, 2010 at 5:53 pm

      Maturnuwun Mas Bayu udah mampir…

      Reply
  • 3. Enambelas September  |  July 21, 2010 at 5:40 pm

    Wah, suwi gak mampir mas.

    Kula remen kalian postinganipun panjenengan.🙂

    Reply
    • 4. Yudhy Herlambang  |  July 23, 2010 at 9:20 am

      Inggih maturnuwun Mas Enambelas…

      Reply
  • 5. abu faqih  |  August 8, 2010 at 7:50 pm

    terus berkarya mas,tulisannya bagus2

    Reply
    • 6. Yudhy Herlambang  |  August 8, 2010 at 8:02 pm

      InsyaAllah Mas, terimakasih supportnya… jazakallah..

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chatting

Download

Arsip

Kalender Posting

July 2010
M T W T F S S
« Mar   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 23,850 hits

%d bloggers like this: