Pena telah terangkat dan lembaran tulisan telah kering

May 27, 2009 at 12:54 pm 1 comment

” Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) “

(Q.S. Al An’am: 59)

Dulu waktu masih getol-getolnya keranjingan menamatkan terjemah Al Qur’an, ayat ini menjadi salah satu ayat yang sangat memikat hati dan pikiran saya.

Begitu puitis untuk menggambarkan kekuasaan Allah yang Maha Dahsyat.

Jangankan apa yang sedang kita kerjakan atau katakan, sepotong daun yang tipis, ringan dan nggak penting pun jatuh dalam pengamatan Allah swt.

Bayangkan! Setiap daun, dari jutaan bahkan milyaran daun yang berguguran di bumi ini diawasi oleh-Nya!

Sedemikian dahsyat dan melekatnya pengawasan Allah terhadap makhluk-Nya. Tapi kita masih saja berpikir keras bagaimana mengkhianati-Nya tanpa ketahuan. Weleh…weleh… memang menakjubkan makhluk yang disebut manusia itu, kadang kegigihannya berbuat maksiat melebihi semangatnya beribadah. Naudzubillah…

***

Saya masih ingin kembali ke ayat di atas, di antara bagian kalimatnya yang sangat menarik bagi saya adalah, “… dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”

Perhatikan betapa luar biasa detail takdir yang telah Allah tentukan.

Jadi keringnya pakaian yang sedang antum pakai saat ini, itu karena telah tertulis di kitab takdir. Begitupun jika ia sekarang sedikit basah karena keringat di bagian tertentu, itupun karena setiap serat kainnnya telah tercatat di kitab takdir dalam kondisi basah.

Kalau basah dan keringnya pakaian saja ditetapkan oleh takdir. Tentu hal-hal besar seperti kondisi belum lulusnya antum saat ini, atau bekerjanya antum di sebuah perusahaan yang tidak antum nikmati, atau penghasilan antum yang segitu-gitu saja, atau belum ketemunya antum dengan jodoh, adalah hal-hal yang telah tertulis dalam takdir pula.

Berangan-angan dengan kalimat, ” Wah, seandainya aku begini dan begitu tentu ini tidak aku alami…” dan kalimat sejenis itu tentu adalah perbuatan yang tak hanya sia-sia, namun juga berkategori syirik kecil.

Takdir adalah kuasa mutlak Allah, ia adalah sesuatu yang telah terjadi dan tidak mungkin kita hindari dengan ikhtiar apapun, apalagi sekedar gerutu tak bermutu.

Lalu apakah kita sebaiknya diam saja menunggu takdir Allah yang ditetapkan untuk kita?

Siapa yang nyuruh begitu?!!

Kita samakan dulu perspektif kita bahwa yang bisa kita sebut takdir adalah sesuatu yang telah terjadi, karena bagaimana mungkin kita menyebut sesuatu kejadian sebagai takdir jika kejadian itu sendiri belum ada?!

Kalau sudah sama perspektifnya, maka kita akan paham bagaimana cara tepat menyikapi takdir, yaitu mencari nilai postif/hikmah dari setiap kejadian yang kita alami, merekamnya sebagai pengalaman, kemudian jika kejadian itu berdampak buruk/tidak kita sukai maka kita harus berikhtiar keras untuk keluar dari kondisi itu dengan titik tolak masa sekarang, bukan masa lalu.

Karena sebagaimana pakaian tadi, jikapun saat ini pakaian anda ditakdirkan basah, bukan berarti dia akan selalu ditakdirkan basah sampai akhir zaman. Boleh jadi dia Allah takdirkan kering satu jam kemudian. Peran kita dalam perubahan takdir ini adalah berikhtiar menjemurnya di terik matahari.

Tapi kita kan tidak tahu apa yang Allah takdirkan di masa datang? !

Justru itu! Karena kita tidak tahu, maka jangan pernah lelah berikhtiar dan berbaik sangka pada takdir Allah. Kalaupun takdir Allah di kemudian hari tidak merubah kondisi kita di dunia, ikhtiar kita telah bernilai di sisi Allah dan akan mendapatkan balasan yang adil di akhirat kelak.

Ibnu Abbas RA berkata:
“Pada satu hari aku berada di belakang Nabi Muhammad SAW, maka beliau bersabda: Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat:Jagalah baik-baik (agama dan perintah) Allah niscaya Dia akan memeliharamu.
Jagalan baik-baik (agama dan perintah) Allah niscaya kamu akan menemukan Dia (menuntunmu) di muka.

Apabila kamu bermohon, bermohonlah kepada Allah
Apabila kami meminta pertolongan, mohonlah pertolongan itu dari Allah

Ketahuilah bahwa ummat ini sekiranya mereka berhimpun padu untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagimu, pastilah mereka tidak akan mampu memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah kepadamu.

Dan jika mereka berhimpun padu untuk memberikan sesuatu yang berbahaya kepadamu, pastilah mereka tidak akan mampu mendatangkannya kecuali sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah kepadamu.

Pena sudah terangkat dan lembaran tulisan sudah kering “

(Dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi, tercantum dalam Kitab Al Adzkar karangan Imam Nawawi)

So, tidak perlu lari dari takdir – karena memang tak akan bisa – teruslah berjuang dengan sepenuh khauf wa raja’ pada-Nya. Harapan itu masih ada (sebelum nisan tertancap, he..he..)

Entry filed under: Sekarang. Tags: , , , , , , , .

Karena Maafkan saya seribu kali…

1 Comment Add your own

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chatting

Download

Arsip

Kalender Posting

May 2009
M T W T F S S
« Mar   Oct »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Blog Stats

  • 23,850 hits

%d bloggers like this: